INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) https://jurnal.unw.ac.id/index.php/IJCE <div class="body"> <div class="description"> <div style="border: 2px #444F71 solid; padding: 3px; background-color: #f0ffff; text-align: left;"> <ol> <li class="show">Nama Jurnal: Indonesian Journal of Community Empowerment (IJCE)</li> <li class="show">Singkatan: IJCE</li> <li class="show">Frekuensi: May and November</li> <li class="show">ISSN: Print 2657-1161 | Online 2657-117X</li> <li class="show">Editor in Chief: Ari Widyaningsih</li> <li class="show">DOI: 10.35473/IJCE</li> <li class="show">Akreditasi : Sinta 5</li> <li class="show">Penerbit: Universitas Ngudi Waluyo Fakultas Kesehatan</li> </ol> </div> <p>Indonesian Journal of Community Empowerment (IJCE) is a journal of community empowerment published by Faculty of Health Science, annually in Mei and November. IJCE welcomes any research-based articles by the lecturers in Faculty of Health Science, Universitas Ngudi Waluyo</p> </div> </div> UNIVERSITAS NGUDI WALUYO en-US INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) 2657-117X Strategi Digital Kreatif VIRGIN (Video Animasi Inovatif tentang Kesehatan Reproduksi) dalam Penguatan Edukasi Kesehatan Reproduksi Remaja https://jurnal.unw.ac.id/index.php/IJCE/article/view/4910 <p><em>Adolescents are a vulnerable group in relation to reproductive health issues due to limited knowledge and exposure to unfiltered digital content. Innovative digital-based educational media are therefore needed to enhance reproductive health literacy while simultaneously promoting safe and creative digital literacy. The main objective is to enhance knowledge, promote healthy digital literacy skills, and strengthen the ability of teachers and students to use and critically evaluate digital information in a wise, safe, and responsible manner. This community service </em><em>program was implemented at SMA Negeri 2 Ungaran and SMK Islam Sudirman 1 Ambarawa through reproductive health education using VIRGIN (Innovative Animated Video on Reproductive Health), healthy digital literacy workshops with hands-on content analysis, and teacher mentoring in the use of animated videos as learning media. Program evaluation was conducted by assessing students’ knowledge before and after the intervention, as well as measuring improvements in participants’ and teachers’ capacities. The results demonstrated a significant increase in students’ knowledge following the VIRGIN-based educational intervention, with a p-value &lt; α (0.03 &lt; 0.05). The healthy digital literacy workshops were effective, with more than 80% of participants showing improved understanding and 78–85% demonstrating the ability to analyze digital content safely. Teacher mentoring enhanced pedagogical and digital competencies in approximately 85% of teachers, while 80–88% became more creative and confident in utilizing animated videos.Animated video–based reproductive health education integrated with healthy digital literacy is recommended for sustainable implementation and expansion to other educational institutions as a preventive strategy to empower adolescents to become informed, healthy, and digitally responsible individuals.<strong> </strong></em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Remaja merupakan kelompok rentan terhadap permasalahan kesehatan reproduksi akibat keterbatasan pengetahuan dan paparan konten digital yang tidak terfilter. Inovasi media edukasi berbasis digital diperlukan untuk meningkatkan literasi kesehatan reproduksi sekaligus literasi digital secara aman dan kreatif. Tujuan utama darai kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan, keterampilan literasi digital sehat, serta kemampuan guru dan siswa dalam menggunakan dan menyaring informasi digital secara bijak, aman, dan bertanggung jawab. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di SMA Negeri 2 Ungaran dan SMK Islam Sudirman 1 Ambarawa melalui pemberian edukasi kesehatan reproduksi menggunakan VIRGIN (Video Animasi Inovatif tentang Kesehatan Reproduksi), workshop literasi digital sehat dengan praktik analisis konten, serta pendampingan guru dalam pemanfaatan video animasi sebagai media pembelajaran yang diikuti 70 siswa. Evaluasi dilakukan melalui pengukuran pengetahuan siswa sebelum dan sesudah intervensi serta penilaian peningkatan kapasitas peserta dan guru. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa secara signifikan setelah edukasi VIRGIN dengan nilai p &lt; α (0,03 &lt; 0,05). Workshop literasi digital sehat terbukti efektif, dengan lebih dari 80% peserta mengalami peningkatan pemahaman dan 78–85% mampu menganalisis konten digital secara aman. Pendampingan guru meningkatkan kompetensi pedagogik dan digital pada sekitar 85% guru, serta mendorong 80–88% guru menjadi lebih kreatif dan percaya diri dalam menggunakan video animasi. Program edukasi kesehatan reproduksi berbasis video animasi dan literasi digital sehat direkomendasikan untuk diimplementasikan secara berkelanjutan dan diperluas ke satuan pendidikan lain sebagai strategi preventif dalam membentuk remaja yang cerdas, sehat, dan bijak dalam memanfaatkan media digital.</p> Tina Mawardika Umi Aniroh Puji Purwaningsih Fiktina Vifri Ismiriyam Tutik Yuliyanti Putra Aditya Evagus Malinda Copyright (c) 2026 Tina Mawardika, Umi Aniroh, Puji Purwaningsih, Fiktina Vifri Ismiriyam, Tutik Yuliyanti, Putra Aditya, Evagus Malinda 2026-05-28 2026-05-28 8 1 1 9 10.35473/ijce.v8i1.4910 SIGIMA (Sistem Informasi Sehat Jiwa Remaja): Upaya Deteksi Dini Kesehatan Mental Berbasis Digital pada Remaja https://jurnal.unw.ac.id/index.php/IJCE/article/view/5036 <p><em>School-age adolescents, particularly those in vocational high schools (SMK), face complex psychosocial challenges. These challenges include the demands of the academic curriculum, identity crises, peer group dynamics, and anxiety in the transition to the workforce or higher education. Therefore, a preventive, proactive, and relevant intervention is needed through the use of digital technology "SIGIMA (Adolescent Mental Health Information System): Digital-Based Early Detection of Mental Health in Adolescents." The purpose of this community service is to determine students' knowledge regarding mental health, their ability to perform screenings, and digital literacy. This community service was carried out at SMK NU with 30 students and SMK Islam Sudirman Ungaran with 35 students. The stages of this community service include Preparation of Digital-based Psychoeducational Materials, Mental Health Screening Activities for adolescents, Implementation of Psychoeducation on mental health in adolescents, Healthy Digital Literacy for Adolescents, Teacher Mentoring and Utilization of Animated Videos, and the evaluation stage. The results of the community service obtained the results of student knowledge before mental health education increased from 18% to 82% after education. The results of students undergoing mental health screenings showed that both schools did not experience anxiety with 26 students at SMK NU, and 28 students at SMK Islam Sudirman. It is recommended for students to regularly carry out mental health screenings so that their psychological well-being can continue to improve.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Remaja usia sekolah khususnya di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dihadapkan pada beban psikososial yang kompleks. Beban tersebut mencakup tuntutan kurikulum akademik, krisis identitas, dinamika <em>peer group</em> (teman sebaya), hingga kecemasan dalam menghadapi transisi menuju dunia kerja atau pendidikan tinggi. Oleh karena itu dibutuhkan intervensi bersifat preventif, proaktif, dan relevan melalui pemanfaatan teknologi digital "SIGIMA (Sistem Informasi Sehat Jiwa Remaja): Upaya Deteksi Dini Kesehatan Mental Berbasis Digital pada Remaja. Tujuan pengabdian ini untuk mengetahui pengetahuan siswa terkait kesehatan mental, kemampuan siswa melakukan skrining, dan literasi digital. Pengabdian ini dilakukan di SMK NU sejumlah 30 siswa dan SMK Islam Sudirman Ungaran sejumlah 35 siswa. Tahapan pengabdian ini meliputi persiapan materi psikoedukasi berbasis digital, kegiatan skrining kesehatan jiwa pada remaja, pelaksanaan psikoedukasi tentang kesehatan jiwa pada remaja, literasi digital sehat untuk remaja, pendampingan guru dan pemanfaatan video animasi, dan tahap evaluasi. Hasil pengabdian didapatkan hasil pengetahuan siswa sebelum edukasi kesehatan jiwa 18% meningkat menjadi 82% sesudah edukasi. Hasil siswa melakukan skrining kesehatan mental didapatkan kedua sekolah ini tidak mengalami kecemasan sejumlah 26 siswa di SMK NU, dan 28 siswa di SMK Islam Sudirman. Saran bagi siswa untuk rutin melakukan skrining kesehatan mental agar kesejahteraan psikologis siswa dapat terus ditingkatkan.</p> Liyanovitasari Puji Lestari Zumrotul Chairiyyah Yoannes Romando Sipayung Copyright (c) 2026 Liyanovitasari, Puji Lestari, Zumrotul Chairiyyah, Yoannes Romando Sipayung 2026-05-30 2026-05-30 8 1 10 16 10.35473/ijce.v8i1.5036 Penerapan Media Visual dalam Edukasi pada Anak Sekolah Dasar tentang Kesehatan Diri dan Kesehatan Seksual di SDN Panjang 03 Ambarawa https://jurnal.unw.ac.id/index.php/IJCE/article/view/5038 <p><em>Personal health is a positive habit that should be developed from an early age to support healthy growth, prevent diseases, and foster awareness of self-care independently. Sexual health is a condition of well-being related to sexual aspects, including basic understanding of the body, gender differences, personal boundaries, and ways to protect oneself from inappropriate actions. Personal health and sexual health are important aspects of child development. In providing health education to elementary school children, appropriate learning media are required. One of the suitable learning media for elementary school students is visual media. The main objective of this community service activity was to improve the knowledge and understanding of elementary school students regarding personal health and sexual health through visual-based learning. The method used in this activity was educational intervention using visual media. The results showed an improvement in students’ knowledge of personal and sexual health after the implementation of visual media-based education, as indicated by pre-test and post-test scores, with 337 out of 497 students achieving good knowledge levels. Students were more active and enthusiastic during the learning process and were able to mention ways to maintain personal hygiene and identify body parts that need to be protected. In conclusion, the use of visual media in learning has proven to be effective in improving the knowledge and understanding of elementary school students regarding personal and sexual health. Visual media are easy for children to understand and</em> <em>can be recommended as an effective learning method in health education for elementary school students.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kesehatan diri merupakan kebiasaan positif sejak dini agar dapat tumbuh dengan tubuh yang sehat, terhindar dari penyakit, memiliki kesadaran untuk merawat diri secara mandiri. Kesehatan seksual merupakan kondisi kesejahteraan yang berkaitan dengan aspek seksual meliputi kesehatan seksual yang berupa aktivitas seksual, pemahaman dasar mengenai tubuh, perbedaan jenis kelamin, batasan diri, serta cara melindungi diri dari tindakan yang tidak pantas. Kesehatan diri dan kesehatan seksual merupakan aspek penting dalam tumbuh kembang anak. Dalam pemberian pemahaman pada anak sekolah dasar terkait kesehatan, memerlukan media pembelajaran yang tepat. Salah satu media pembelajaran yang baik untuk anak sekolah dasar adalah media visual. Tujuan utama kegiatan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa sekolah dasar tentang kesehatan diri dan kesehatan seksual melalui edukasi dengan media visual. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah edukasi dengan menggunakan media visual. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa tentang kesehatan diri dan kesehatan seksual setelah diberikan edukasi menggunakan media visual dilihat dari nilai pre-test dan post-test yang menunjukkan pengetahuan baik sebanyak 337 siswa dari 497 siswa. Siswa terlihat lebih aktif dan antusias serta mampu menyebutkan cara menjaga kebersihan diri serta memahami bagian tubuh yang perlu dilindungi. Kesimpulan kegiatan pengabdian ini adalah penerapan media visual dalam pembelajaran terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa sekolah dasar tentang kesehatan diri dan kesehatan seksual dan mudah dipahami oleh anak. Penggunaan media visual dapat direkomendasikan sebagai salah satu metode pembelajaran yang efektif dalam edukasi kesehatan pada anak sekolah dasar.</p> Wulansari Fiktina Vifri Ismiriyam Joyo Minardo Copyright (c) 2026 Wulansari, Fiktina Vifri Ismiriyam, Joyo Minardo 2026-05-30 2026-05-30 8 1 17 23 10.35473/ijce.v8i1.5038 Skrining dan Edukasi Kecanduan Gadget dalam Upaya Membangun Generasi yang Sehat & Sejahtera di SMA Negeri 1 Ambarawa https://jurnal.unw.ac.id/index.php/IJCE/article/view/5039 <p><em>Rapid advances in digital technology have increased gadget use among adolescents, which has the potential to lead to addiction and impact academic, social, and psychological aspects. This study aims to screen for levels of gadget addiction and evaluate the effectiveness of educational interventions in improving students’ knowledge regarding healthy gadget use. The study was conducted with 89 students at SMA Negeri 1 Ambarawa using a pre–post design without a control group. The instruments used were the short version of the Smartphone Addiction Scale (SAS-SV) questionnaire and pre- and post-education knowledge questionnaires. The screening results showed that the majority of respondents fell into the high gadget addiction category (65.2%), while 34.8% were in the low category. These findings indicate a high level of gadget dependence among adolescents. Following the educational session, there was an increase in students’ knowledge, as evidenced by a shift toward more adaptive categories of gadget use. The education provided proved effective in raising students’ awareness of the negative impacts of excessive gadget use, although behavioral changes were not yet optimal.Theoretically, increased knowledge is the first step toward behavioral change; however, sustained interventions are needed to produce more significant changes. Limitations of this study include the absence of a control group, the use of self-report instruments, and the short duration of the intervention. Therefore, it is recommended to develop a structured educational program, involve parents and schools, and use more comprehensive evaluation methods. This screening and education initiative has the potential to serve as a promotive-preventive intervention model for reducing gadget addiction among adolescents.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Perkembangan teknologi digital yang pesat telah meningkatkan penggunaan gadget pada remaja, yang berpotensi menimbulkan kecanduan dan berdampak pada aspek akademik, sosial, dan psikologis. Studi ini bertujuan untuk melakukan skrining tingkat kecanduan gadget serta mengevaluasi efektivitas edukasi dalam meningkatkan pengetahuan siswa terkait penggunaan gadget yang sehat. Kegiatan dilaksanakan pada 89 siswa di SMA Negeri 1 Ambarawa menggunakan pendekatan pre–post tanpa kelompok kontrol. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Smartphone Addiction Scale versi singkat (SAS-SV) serta kuesioner pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi. Hasil skrining menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada kategori kecanduan gadget tinggi (65,2%), sedangkan 34,8% berada pada kategori rendah. Temuan ini menunjukkan tingginya tingkat ketergantungan gadget pada remaja. Setelah diberikan edukasi, terjadi peningkatan pengetahuan siswa yang ditunjukkan melalui perubahan distribusi kategori penggunaan gadget yang lebih adaptif. Edukasi yang diberikan terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran siswa terhadap dampak negatif penggunaan gadget berlebihan, meskipun perubahan perilaku belum optimal. Secara teoritis, peningkatan pengetahuan merupakan langkah awal dalam perubahan perilaku, namun diperlukan intervensi berkelanjutan untuk menghasilkan perubahan yang lebih signifikan. Keterbatasan kegiatan ini meliputi tidak adanya kelompok kontrol, penggunaan instrumen self-report, serta durasi intervensi yang singkat. Oleh karena itu, direkomendasikan pengembangan program edukasi yang terstruktur, pelibatan orang tua dan sekolah, serta penggunaan metode evaluasi yang lebih komprehensif. Kegiatan skrining dan edukasi ini berpotensi menjadi model intervensi promotif-preventif dalam mengurangi kecanduan gadget pada remaja.</p> Mona Saparwati Trimawati Abdul Wahid Achmad Syaifudin Copyright (c) 2026 Mona Saparwati, Trimawati, Abdul Wahid, Achmad Syaifudin 2026-05-30 2026-05-30 8 1 24 30 10.35473/ijce.v8i1.5039 Sehat Reproduktif, Sehat Masa Depan: Edukasi Bahaya PMS dan HIV/AIDS pada Remaja di SMK Muhammadiyah Salatiga https://jurnal.unw.ac.id/index.php/IJCE/article/view/5044 <p><em>Adolescents are an age group vulnerable to risky behaviors related to reproductive health, including exposure to sexually transmitted diseases (STDs) and HIV/AIDS. Lack of comprehensive knowledge, along with stigma and misinformation, are key factors contributing to low awareness among adolescents regarding the prevention of these diseases. This community service activity aims to increase adolescents' knowledge and awareness regarding the dangers of STDs and HIV/AIDS through reproductive health education at Muhammadiyah Vocational School in Salatiga. The methods used were interactive counseling, group discussions, and the provision of educational media based on leaflets and audiovisual presentations. The activity was carried out using a pre-test and post-test approach to measure the increase in participants' knowledge. The target group was </em><em>147 students in grades 10 and 11. The results showed a significant increase in students' knowledge after the education, as indicated by an increase in the average post-test score compared to the pre-test. In addition, participants showed a more positive attitude towards STD and HIV/AIDS prevention efforts, including the importance of a healthy and responsible lifestyle. The conclusion of this activity is that interactive and systematic reproductive health education is effective in increasing adolescents' knowledge and awareness regarding the dangers of STDs and HIV/AIDS. Therefore, similar activities need to be carried out continuously by involving various parties, including schools and health workers, to support the creation of a healthy and quality young generation.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap perilaku berisiko terkait kesehatan reproduksi, termasuk paparan penyakit menular seksual (PMS) dan HIV/AIDS. Kurangnya pengetahuan yang komprehensif serta adanya stigma dan misinformasi menjadi faktor utama yang mempengaruhi rendahnya kesadaran remaja terhadap pencegahan penyakit tersebut. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja mengenai bahaya PMS dan HIV/AIDS melalui edukasi kesehatan reproduksi di SMK Muhammadiyah Salatiga. Metode yang digunakan berupa penyuluhan interaktif, diskusi kelompok, serta pemberian media edukasi berbasis leaflet dan presentasi audiovisual. Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta. Sasaran kegiatan adalah siswa kelas X dan XI yang berjumlah 147 orang. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan siswa setelah diberikan edukasi, yang ditunjukkan dengan kenaikan nilai rata-rata post-test dibandingkan pre-test. Selain itu, peserta menunjukkan perubahan sikap yang lebih positif terhadap upaya pencegahan PMS dan HIV/AIDS, termasuk pentingnya perilaku hidup sehat dan bertanggung jawab. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah edukasi kesehatan reproduksi yang dilakukan secara interaktif dan sistematis efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja terkait bahaya PMS dan HIV/AIDS. Oleh karena itu, kegiatan serupa perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk sekolah dan tenaga kesehatan, guna mendukung terciptanya generasi muda yang sehat dan berkualitas.</p> Cahyaningrum Masruroh Copyright (c) 2026 Cahyaningrum, Masruroh 2026-05-30 2026-05-30 8 1 31 36 10.35473/ijce.v8i1.5044 WUS-FRESH (Wanita Usia Subur – Fluor Albus Education For Reproductive Health): Penyuluhan untuk Meningkatkan Pengetahuan Tentang Fluor Albus https://jurnal.unw.ac.id/index.php/IJCE/article/view/5055 <p><em>Women of Childbearing Age (WUS) are a group of women aged 15–49 years who are in their active reproductive phase and are at high risk of reproductive health problems. One common problem is vaginal discharge (fluor albus). Lack of knowledge about the characteristics of normal and abnormal vaginal discharge causes many women to ignore symptoms that can indicate reproductive tract infections, sexually transmitted diseases, and even complications that can affect fertility. To increase knowledge of women of childbearing age about vaginal discharge through reproductive health education activities. The activity was carried out in several stages, including: 1) Preparation; 2) Pre-test data collection; 3) Implementation of counseling using lecture and discussion methods using flyer media; 4) Post-test data collection (evaluation). Pre-test and post-test data collection was carried out qualitatively by means of interviews regarding the material provided. The target of the activity was women of childbearing age (WUS) in Br. Batur Sari, Kesiman Kertalangu Village, Denpasar. There was an increase in WUS knowledge about fluor albus after being given education. The WUS-FRESH program not only contributes to increasing knowledge about fluor albus, but also supports promotive and preventive efforts for reproductive health. Sustainability of the program is highly recommended by involving health workers and community cadres, so that its positive impact can reach more WUS and contribute to improving the quality of reproductive health in a sustainable manner.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Wanita Usia Subur (WUS) merupakan kelompok perempuan berusia 15–49 tahun yang berada pada fase aktif reproduksi dan memiliki risiko tinggi terhadap masalah kesehatan reproduksi. Salah satu permasalahan yang sering terjadi adalah fluor albus (keputihan). Kurangnya pengetahuan tentang karakteristik keputihan normal dan abnormal menyebabkan banyak wanita mengabaikan gejala yang dapat mengarah pada infeksi saluran reproduksi, penyakit menular seksual, bahkan komplikasi yang dapat memengaruhi kesuburan. Meningkatkan pengetahuan wanita usia subur mengenai fluor albus melalui kegiatan penyuluhan kesehatan reproduksi. Kegiatan dilakukan dalam ebebrapa tahapan, antara lain: 1) Persiapan; 2) Pengambilan data pre-test; 3) Pelaksanaan penyuluhan dengan metode ceramah dan diskusi menggunakan media flyer; 4) Pengambilan data post-test (evaluasi). Pengambilan data pre-test dan post-test dilakukan secara kualitatif dengan cara wawancara seputar materi yang diberikan. Sasaran kegiatan adalah wanita usia subur (WUS) di Br. Batur Sari Desa Kesiman Kertalangu, Denpasar. Terdapat peningkatan pengetahuan WUS tentang fluor albussetelah diberikan edukasi. Program WUS-FRESH tidak hanya berkontribusi pada peningkatan pengetahuan tentang fluor albus, tetapi juga mendukung upaya promotif dan preventif kesehatan reproduksi. Keberlanjutan program sangat disarankan dengan melibatkan tenaga kesehatan dan kader masyarakat, agar dampak positifnya dapat menjangkau lebih banyak WUS dan berkontribusi pada peningkatan kualitas kesehatan reproduksi secara berkelanjutan.</p> <p> </p> Anak Agung Sagung Ratu Putri Saraswati Ni Made Padma Batiari Kadek Sri Ariyanti I Desak Ketut Dewi Satiawati Kurnianingsih Luh Verra Sridyantari Copyright (c) 2026 Anak Agung Sagung Ratu Putri Saraswati, Ni Made Padma Batiari, Kadek Sri Ariyanti, I Desak Ketut Dewi Satiawati Kurnianingsih, Luh Verra Sridyantari 2026-05-30 2026-05-30 8 1 37 43 10.35473/ijce.v8i1.5055 Implementasi Media Smart Pop-up Book untuk Edukasi Kesehatan Seksual dan Reproduksi Anak Berkebutuhan Khusus di TK-SD Inklusi Fun & Play Semarang https://jurnal.unw.ac.id/index.php/IJCE/article/view/5084 <p><em>Violence and sexual abuse against children remain a public health issue, particularly for children with disabilities, who are more vulnerable than the general population. Early sexual and reproductive health education is a crucial preventive measure, yet its implementation in inclusive schools still faces obstacles. Based on a problem identification process involving 7 teachers at the Fun &amp; Play Inclusive Kindergarten and Primary School in Semarang, several challenges faced by the partners were identified, including limited resources, difficulties in delivering sensitive material, and the diversity of pupils’ characteristics. This community service activity aims to evaluate the acceptability, appropriateness, and feasibility of implementation of the Smart pop-up book as an educational tool for sexual and reproductive health among children in inclusive nursery and primary schools. This community service activity was conducted using a Focus Group Discussion (FGD) approach and outreach activities carried out through four stages: problem identification, solution design, programme implementation, and evaluation. Problem identification was carried out through FGDs to assess the needs and barriers experienced by teachers. Programme evaluation was conducted using the Acceptability of Intervention Measure (AIM), Intervention Appropriateness Measure (IAM), and Feasibility of Intervention Measure (FIM) questionnaires, which were subsequently analysed descriptively. The evaluation results showed an average acceptability score of 99.3%, an appropriateness score of 91.4%, and a feasibility score of 90%. These findings indicate that the Smart pop-up book was very well received, aligned with the needs of teachers and pupils, and was easy to implement in inclusive school settings. Consequently, this resource has the potential to support the prevention of sexual violence against children with disabilities through an engaging, concrete, and adaptive.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kekerasan dan pelecehan seksual pada anak masih menjadi masalah dalam aspek kesehatan masyarakat, terutama pada anak dengan disabilitas yang memiliki kerentanan lebih tinggi dibandingkan dengan populasi umum. Edukasi kesehatan seksual dan reproduksi sejak dini menjadi sebuah upaya preventif yang sangat penting, namun implementasinya di sekolah inklusi masih menghadapi hambatan. Berdasarkan identifikasi masalah dengan 7 guru di TK-SD Inklusi <em>Fun &amp; Play </em>Semarang, diperoleh beberapa permasalahan yang dihadapi mitra, meliputi keterbatasan media, kesulitan penyampaian materi yang sensitif, serta keberagaman karakteristik siswa. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan mengevaluasi penerimaan, kesesuaian, dan kemudahan penerapan media <em>Smart pop-up book </em>sebagai saran edukasi kesehatan seksual dan reproduksi pada anak TK-SD inklusi. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan melalui pendekatan <em>Focus Group Discussion </em>(FGD) dan sosialisasi yang dilaksanakan melalui empat tahapan, yaitu identifikasi masalah, perancangan solusi, pelaksanaan program, dan evaluasi. Identifikasi masalah dilakukan melalui FGD untuk mengkaji kebutuhan dan hambatan yang dialami guru. Evaluasi program dilakukan menggunakan kuesioner <em>Acceptability of Intervention Measure</em> (AIM), <em>Intervention Appropriateness Measure</em> (IAM), dan <em>Feasibility of Intervention Measure</em> (FIM), kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil evaluasi menunjukkan rerata skor <em>acceptability </em>sebesar 99,3%, <em>appropriateness </em>sebesar 91,4%, dan<em> feasibility </em>sebesar 90%. Temuan ini menunjukkan bahwa media <em>Smart pop-up book </em>diterima dengan sangat baik, sesuai dengan kebutuhan guru dan siswa, serta mudah diterapkan dalam pembelajaran di sekolah inklusi. Dengan demikian, media ini berpotensi menjadi inovasi edukatif dalam mendukung pencegahan kekerasan seksual pada anak dengan disabilitas melalui pendekatan pembelajaran yang menarik, konkret dan adaptif.</p> Dian Nintyasari Mustika Sugiyani Carlin Souhaly Sarah Semaher Nurrihan Salma Septiana Nurfadilla Khoirotun Nahda Copyright (c) 2026 Dian Nintyasari Mustika, Sugiyani, Carlin Souhaly, Sarah Semaher Nurrihan, Salma Septiana Nurfadilla, Khoirotun Nahda 2026-05-30 2026-05-30 8 1 44 51 10.35473/ijce.v8i1.5084 Pelatihan Kader Kesehatan dengan Buku Pintar Sidini (Siaga Deteksi Dini Ibu Nifas) https://jurnal.unw.ac.id/index.php/IJCE/article/view/5092 <p><em>The problems and challenges faced by partners include 2.6% of mothers experiencing baby blues, and 7.9% of mothers with perineal wound infections and low exclusive breastfeeding coverage. One of the contributing factors to these problems in postpartum mothers is the lack of a postpartum mother support group, resulting in a lack of information about the benefits and importance of early detection of postpartum mothers, breast milk for babies, neonatal care, and postpartum care. The results of a preliminary study showed that of the 15 Posyandu cadres interviewed, they did not have in-depth knowledge of early detection of mothers during the postpartum period, correct breastfeeding methods, and forms of support for postpartum mothers. This is expected to increase the knowledge and skills of health cadres about postpartum care, and can disseminate it to the community, especially postpartum mothers and their families, so as to reduce problems and disorders during the postpartum period. All participants participated in the training enthusiastically and were able to perform early detection of complications in postpartum mothers. Analysis of pre-test and post-test data showed a very significant increase in competence. Participants' average pretest score was 56,2 out of 100, reflecting limited general knowledge. After completing the entire training series, the average posttest score jumped dramatically to 86,69. This increase in the average is strong empirical evidence of the high effectiveness of the training method in transferring knowledge and skills. This significant improvement not only reflects technical mastery but also indicates a fundamental shift in mindset among participants. The pretest measured clinical knowledge and general awareness, while the posttest was designed to assess knowledge. The cadre's knowledge score, based on the posttest results after the training, increased from 52.62 to 86.69, representing a 34.07-point increase.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Permasalahan dan tantangan yang dihadapi mitra yakni terdapat 2,6% ibu mengalami<em> baby blues</em>, dan 7,9% ibu dengan infeksi luka perineum dan cakupan ASI esklusif yang rendah. Salah satu faktor pendukung adanya masalah pada ibu nifas ini adalah belum terbentuknya kelompok pendamping ibu Nifas, mengakibatkan minimnya informasi tentang manfaat dan pentingnya deteksi dini ibu nifas, ASI bagi bayi, perawatan neonatus, dan postpartum care. Hasil studi pendahulan menunjukan bahwa dari 15 kader Posyandu yang diwawancarai, mereka belum mengetahui secara mendalam untuk deteksi dini ibu pada masa nifas, cara menyusui yang benar dan bentuk dukungan bagi ibu nifas. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader kesehatan tentang perawatan masa nifas, dan dapat menyebarluaskannya kepada masyarakat khususnya ibu nifas dan keluarganya sehingga mampu mengurangi masalah dan gangguan pada masa nifas. Seluruh peserta mengikuti pelatihan dengan antusias dan mampu untuk melakukan deteksi dini komplikasi pada ibu nifas. Analisis data pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan kompetensi yang sangat signifikan. Nilai rata-rata pretest peserta adalah 52,62 dari skala 100, yang merefleksikan pengetahuan umum yang masih terbatas. Setelah mengikuti seluruh rangkaian pelatihan, nilai rata-rata post-test melonjak drastis menjadi 86,9. Peningkatan rerata ini merupakan bukti empiris yang kuat mengenai tingginya efektivitas metode pelatihan dalam proses transfer pengetahuan dan keterampilan. Peningkatan yang signifikan ini tidak hanya merefleksikan penguasaan teknis, tetapi juga menandakan adanya pergeseran pola pikir fundamental pada peserta. Pre-test mengukur pengetahuan klinis dan kesadaran umum, post-test dirancang untuk menilai pengetahuan dan skor pengetahuan kader dari hasil post test setelah kegiatan pelatihan meningkat dari 52,62 menjadi 86,69 sehingga terjadi kenaikan skor sebanyak 34,07 point.</p> Elisa Ulfiana Aulia Fatmayanti Ristiana Copyright (c) 2026 Elisa Ulfiana, Aulia Fatmayanti, Ristiana 2026-05-30 2026-05-30 8 1 52 57 10.35473/ijce.v8i1.5092 Pembentukan Kader Kesehatan Remaja Berbasis Trias UKS Menuju Indonesia Emas 2045 di SMK Pangudi Luhur Tarcicius Semarang https://jurnal.unw.ac.id/index.php/IJCE/article/view/5100 <p><em>Adolescents are a strategic group in human resource development towards Indonesia Emas 2045. However, there is still a need to strengthen adolescent health education in schools, especially in non-health schools. This community service activity aims to develop adolescent health cadres based on the Trias UKS (Healthy Child Health Program) at SMK Pangudi Luhur Tarcicius Semarang and increase students' knowledge about adolescent health. The implementation method consisted of preparation, cadre recruitment, module development, training, implementation, mentoring, evaluation, and development of a sustainability plan. Evaluation was conducted using pre- and post-tests with 30 participants. The results of the activity indicated that all stages of the service had been completed. Knowledge scores increased from 12.67 to 13.73, indicating a significant difference between pre- and post-activity scores. The formation of adolescent health cadres based on the Trias UKS has proven beneficial in increasing student knowledge and strengthening their role as health promotion agents in schools. This program needs to be continued through UKS coaching, regular cadre development, and mentoring from supervising teachers.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Remaja merupakan kelompok strategis dalam pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Namun, masih terdapat kebutuhan penguatan pendidikan kesehatan remaja di lingkungan sekolah, terutama pada sekolah non-kesehatan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan membentuk kader kesehatan remaja berbasis Trias UKS di SMK Pangudi Luhur Tarcicius Semarang serta meningkatkan pengetahuan siswa mengenai kesehatan remaja. Metode pelaksanaan terdiri atas tahap persiapan, rekrutmen kader, penyusunan modul, pelatihan, implementasi, pendampingan, evaluasi, dan penyusunan rencana keberlanjutan. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test terhadap 30 peserta. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa seluruh tahapan pengabdian telah terlaksana. Skor pengetahuan meningkat dari 12,67 menjadi 13,73 terdapat perbedaan bermakna antara skor sebelum dan sesudah kegiatan. Pembentukan kader kesehatan remaja berbasis Trias UKS terbukti bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan siswa dan memperkuat peran siswa sebagai agen promosi kesehatan di sekolah. Program ini perlu dilanjutkan melalui pembinaan UKS, kaderisasi berkala, dan pendampingan guru pembina.</p> Yulia Nur Khayati Vistra Veftisia Ari Widyaningsih Moneca Diah Listiyaningsih Copyright (c) 2026 Yulia Nur Khayati, Vistra Veftisia, Ari Widyaningsih, Moneca Diah Listiyaningsih 2026-05-30 2026-05-30 8 1 58 62 10.35473/ijce.v8i1.5100 Edukasi dan Pelatihan Pembuatan Eco-Dish Soap Berbasis Eco-Enzyme untuk Meningkatkan Kesadaran Pengelolaan Limbah Organik https://jurnal.unw.ac.id/index.php/IJCE/article/view/5108 <p><em>The increase in organic waste has become an environmental issue that requires addressing through education and the sustainable utilization of waste. This community service activity aims to enhance the community’s knowledge and skills in processing fruit waste into eco-enzymes, which are used as the base material for making eco-friendly dish soap. The activity was conducted in the form of outreach sessions, demonstrations, and hands-on training on product production for school students. Evaluation was carried out using pretest and posttest methods to measure participants’ level of understanding before and after the activity. The evaluation results showed that the educational and training activities had a positive impact on increasing the community’s knowledge regarding household organic waste management and the utilization of eco-enzymes. A total of 40 participants were involved in this activity, and 92.4% of participants experienced an increase in knowledge after participating. In addition to raising environmental awareness, this training also provided practical skills in producing safer and more environmentally friendly cleaning products. Thus, this activity is expected to encourage the independent and sustainable implementation of organic waste management within the school environment. </em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Peningkatan jumlah limbah organik menjadi salah satu permasalahan lingkungan yang memerlukan penanganan melalui edukasi dan pemanfaatan limbah secara berkelanjutan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah limbah buah menjadi eco-enzyme yang dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan eco-dish soap ramah lingkungan. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk penyuluhan, demonstrasi, dan pelatihan praktik pembuatan produk kepada siswa sekolah. Evaluasi dilakukan menggunakan metode pretest dan posttest untuk mengukur tingkat pemahaman peserta sebelum dan sesudah kegiatan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kegiatan edukasi dan pelatihan memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai pengelolaan limbah organik rumah tangga dan pemanfaatan eco-enzyme. Sebanyak 40 peserta terlibat dalam kegiatan ini, dan 92,4% peserta mengalami peningkatan pengetahuan setelah mengikuti kegiatan. Selain meningkatkan kesadaran lingkungan, pelatihan ini juga memberikan keterampilan praktis dalam menghasilkan produk pembersih yang lebih aman dan ramah lingkungan. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan dapat mendorong penerapan pengelolaan limbah organik secara mandiri dan berkelanjutan di lingkungan sekolah.</p> Devi Mardiyanti Al Hajar Fuadatus Zurroh Ariyanti Willi Wahyu Timur Copyright (c) 2026 Devi Mardiyanti; Al Hajar Fuadatus Zurroh , Ariyanti, Willi Wahyu Timur 2026-05-30 2026-05-30 8 1 63 70 10.35473/ijce.v8i1.5108 Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sebagai Upaya Deteksi Dini Penyakit Tidak Menular di Dusun Sendang Putri Desa Nyatnyono https://jurnal.unw.ac.id/index.php/IJCE/article/view/5115 <p><em>Non-communicable diseases (NCDs) such as Diabetes Mellitus and Hypertension are now a major health threat in Indonesia. NCDs develop slowly and often go undetected until they reach a serious stage. As a result, the economic and social burden also increases for individuals, families, and the National Health System. These diseases not only reduce the quality of life but are also a leading cause of death in Indonesia. Without serious prevention efforts, such as public education, early detection, and lifestyle changes, NCDs will continue to increase and threaten the productivity of future generations. Therefore, collective awareness and concrete action are key to facing this health challenge. One concrete action is through preventive measures: early detection through free health checks. Based on secondary data from the Lerep Community Health Center and interview data from health volunteers, the most common diseases in the Lerep Community Health Center area are diabetes mellitus (DM) and hypertension. Dusun Sendang Putri is one of the hamlets in Nyatnyono Village. This community service aims to early detection of non-communicable diseases, especially diabetes mellitus (DM) and hypertension. A participatory approach from residents involved 78 respondents. The instruments used were a glucometer and an sphygmomanometer. The approach involved DM and hypertension examination by door-to-door visits to residents' homes for five days, including free health checks. Results showed 5,6% with diabetes and 9% with hypertension. The conclusion of the community service activity demonstrated that the participatory and door-to-door approach for free health checks is more effective in early detection of diabetes and hypertension and can be adopted as a strategy for early detection of NCDs.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti Diabetes Mellitus dan Hipertensi kini menjadi ancaman kesehatan utama di Indonesia. PTM berkembang secara perlahan dan sering kali tidak terdeteksi hingga mencapai tahap serius. Akibatnya, beban ekonomi dan sosial juga meningkat baik bagi individu, keluarga, maupun Sistem Kesehatan Nasional. Penyakit ini tidak hanya menurunkan kualitas hidup, tetapi juga menjadi penyebab utama kematian di Indonesia. Tanpa upaya pencegahan yang serius, seperti edukasi masyarakat, deteksi dini, dan perubahan gaya hidup, PTM akan terus meningkat dan mengancam produktivitas generasi mendatang. Oleh karena itu, kesadaran kolektif dan tindakan nyata menjadi kunci untuk menghadapi tantangan kesehatan ini. Salah satu tindakan nyata melalui tindakan preventif: Deteksi dini melalui cek kesehatan gratis. Berdasarkan data sekunder dari Puskesmas Lerep dan data wawancara dari kader kesehatan menyatakan bahwa penyakit yang paling banyak di wilayah Puskesmas Lerep yaitu DM dan hipertensi. Dusun Sendang Putri adalah salah satu dusun di Desa Nyatnyono. Pengabdian ini bertujuan untuk deteksi dini penyakit tidak menular khususnya penyakit DM dan hipertensi. Pendekatan partisipatif warga dengan melibatkan 78 responden. Instrumen yang digunakan adalah glucometer dan sphygmomanometer. Pendekatan yang dilakukan dengan melakukan pengecekan gula darah dan hipertensi <em>door to door</em> ke rumah warga selama 5 hari yaitu cek kesehatan gratis. Hasil menunjukkan sebanyak 5,6% dengan DM dan 9% dengan hipertensi. Simpulan: Membuktikan Pendekatan partisipatif dengan cara <em> door to door</em> untuk cek kesehatan gratis lebih efektif dalam upaya deteksi dini penyakit DM dan hipertensi dan dapat diadopsi sebagai strategi untuk deteksi dini penyakit PTM.</p> Suwanti Novian Laras Kinanti Salma Nadia Yuga Setyawan Puji Lestari Copyright (c) 2026 Suwanti, Novian Laras Kinanti, Salma Nadia, Yuga Setyawan, Puji Lestari 2026-05-31 2026-05-31 8 1 71 76 10.35473/ijce.v8i1.5115 Apoteker Cilik Sahabat Sehatku : Belajar Hidup Bersih dan Mengenal Tanaman Obat Keluarga di PAUD Labschool UNNES https://jurnal.unw.ac.id/index.php/IJCE/article/view/5114 <p><em>Clean and Healthy Living Behavior (CHLB) plays an important role in promoting health among early childhood populations, particularly in preventing environmental-based diseases such as Dengue Hemorrhagic Fever (DHF). However, limited knowledge regarding hygiene practices, proper medication use, and the utilization of family medicinal plants remains a challenge. This study aimed to improve children’s health knowledge through an integrated educational program. This community service activity was conducted at PAUD Labschool UNNES Semarang involving 15 children. The intervention included interactive learning methods such as videos, storytelling, discussions, and hands-on demonstrations, including proper handwashing practices, introduction to basic drug dosage forms, and planting of family medicinal plants. A pretest–posttest design was applied to evaluate the effectiveness of the program. The results showed a significant improvement in participants’ knowledge, with the mean score increasing from 2.06 (pretest) to 5 (posttest). Statistical analysis using the Wilcoxon test indicated a significant difference (p &lt; 0.05), with all participants demonstrating improved scores. These findings suggest that the educational intervention was effective in enhancing children’s understanding of hygiene practices, DHF prevention, safe medication use, and medicinal plant utilization. In conclusion, this program effectively improved health knowledge among early childhood participants through an engaging and participatory approach. The program has the potential to be implemented as a sustainable model for health education in early childhood settings.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) memiliki peran penting dalam meningkatkan derajat kesehatan, khususnya pada anak usia dini dalam mencegah penyakit berbasis lingkungan seperti demam berdarah dengue (DBD). Namun, pengetahuan mengenai praktik kebersihan, penggunaan obat yang benar, serta pemanfaatan tanaman obat keluarga masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan anak melalui program edukasi yang terintegrasi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di PAUD Labschool UNNES Semarang dengan melibatkan 15 anak. Intervensi dilakukan melalui metode edukasi interaktif berupa pemutaran video, bercerita, diskusi, serta demonstrasi langsung seperti praktik cuci tangan yang benar, pengenalan bentuk sediaan obat, dan penanaman tanaman obat keluarga. Evaluasi dilakukan menggunakan desain pretest–posttest untuk menilai efektivitas program. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan, dengan nilai rata-rata meningkat dari 2,06 (pretest) menjadi 5 (posttest). Analisis statistik menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan yang signifikan (p &lt; 0,05), di mana seluruh peserta mengalami peningkatan skor. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi edukasi efektif dalam meningkatkan pemahaman anak mengenai PHBS, pencegahan DBD, penggunaan obat yang aman, dan pemanfaatan tanaman obat. Kesimpulannya, program ini efektif dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan anak usia dini melalui pendekatan yang edukatif dan partisipatif, serta berpotensi menjadi model edukasi kesehatan yang berkelanjutan di lingkungan pendidikan anak usia dini.</p> Yehezkiel Alexander Umbu Pati Nancy Celine sicilia Tuasela Angelina S.E.B.Kopong Maulidahul Amina Salsabiela Dwiyudrisa Suyudi Copyright (c) 2026 Yehezkiel Alexander Umbu Pati, Nancy Celine sicilia Tuasela, Angelina S.E.B.Kopong, Maulidahul Amina, Salsabiela Dwiyudrisa Suyudi 2026-05-31 2026-05-31 8 1 77 84 10.35473/ijce.v8i1.5114 Emo Demo Pencegahan Gizi Kurang pada Balita dengan Pemanfaatan Pangan Lokal di Kecamatan Kaliwungu Selatan https://jurnal.unw.ac.id/index.php/IJCE/article/view/5140 <p><em>The problem of malnutrition in toddlers remains a public helath challenge that requires educational interventions based on behavioral change. The low nutritional knowledge of mothers regarding toddler feeding and the less than optimal utilization of local foods are factors that affect children’s nutritional status. The Emotional Demonstration (Emo Demo) activity is an educational method based on behavioral change that uses an emotional approach and interactive demonstrations to improve the understanding of toddler mothers. This community service activity aims to improve the knowledge and practice of toddler mothers regarding the prevention of malnutrition through the Emo Demo method by utilizing local foods in Kaliwungu District. The implementation method uses participatory education through demonstrations, educational games, toddler finger food simulations, and local food processing practices such as dragon’s feet. The activity participants were 40 toddler mothers and helath cadres. Evalutions was carried out using a pretest and posttest of knowledge. Data analysis used a paired t-test. The results showed an average knowledge score increased from </em><em>60,85 ± 9,74 to 83,10 ± 7,92 with a p value 0,001 (p= &lt;0,05). Furthhermore, the practice of utilizing local food increased from 52,5% to 80 %. The Emo Demo activity proved effective in increasing mother’s understanding of toddler’s malnutrition prevetion and the use of local food as a nutritious food source for toddlers.</em></p> <p> </p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Masalah kurang gizi pada Balita masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang memerlukan intervensi edukasi berbasis perubahan perilaku. Rendahnya pengetahuan gizi ibu mengenai pemberian makan Balita dan kurang optimalnya pemanfaatan pangan lokal menjadi faktor yang mempengaruhi status gizi anak. Kegiatan Emotional Demonstration (Emo Demo) merupakan metode edukasi berbasis perubahan perilaku yang menggunakan pendekatan emosional dan demonstrasi interaktif untuk meningkatkan pemahaman ibu Balita. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan praktik ibu Balita mengenai pencegahan gizi kurang melalui metode Emo Demo dengan pemanfaatan pangan lokal di Kecamatan Kaliwungu. Metode pelaksanaan menggunakan edukasi partisipatif melalui demonstrasi, permainan edukatif, simulasi finger food balita, dan praktek pengolahan pangan lokal berupa kaki naga. Peserta kegiatan sebanyak 40 ibu balita dan kader kesehatan. Evaluasi dilakukan menggunakan pretest dan posttest pengetahuan. Analisis data menggunakan uji <em>paired t-test</em>. Hasil menunjukkan rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 60,85 ± 9,74 menjadi 83,10 ± 7,92 dengan nilai p= 0,001 (p= &lt;0,05). Selain itu, praktik pemanfaatan pangan lokal meningkat dari 52,5% menjadi 80%. Kegiatan Emo Demo terbukti efektif meningkatkan pemahaman ibu Balita mengenai pencegahan gizi kurang dan pemanfaatan pangan lokal sebagai sumber makanan bergizi bagi Balita.</p> Ardian Candra Mustikaningrum Sulastri Atala Rania Insyira Copyright (c) 2026 Ardian Candra Mustikaningrum, Sulastri, Atala Rania Insyira 2026-05-31 2026-05-31 8 1 85 90 10.35473/ijce.v8i1.5140 Edukasi Pijat Common Cold untuk Meningkatkan Pengetahuan Siswa Jurusan Layanan Kesehatan dan Caregiver di SMK Darussalam Bergas https://jurnal.unw.ac.id/index.php/IJCE/article/view/5164 <p><em>Common cold is one of the upper respiratory tract disorders that frequently occurs in children and adolescents. The management of common cold can be carried out pharmacologically and non-pharmacologically, one of which is through common cold massage therapy. Based on the situational analysis conducted at SMK Darussalam Bergas, it was found that most students of the Health Services and Caregiver Department had limited understanding regarding the benefits and techniques of common cold massage as a complementary therapy to help relieve cough and cold symptoms. Therefore, the community service team from the Midwifery Study Program of Universitas Ngudi Waluyo conducted a community service activity in the form of education and training on common cold massage on December 16, 2025. The methods included situational analysis, health education using PowerPoint (PPT) media, massage demonstrations using x-banners and dolls, and direct practice by participants. Evaluation was conducted through pretests and posttests using questionnaires consisting of 10 questions related to common cold and common cold massage. The evaluation results showed an increase in the average participants’ knowledge score from 58.9% in the pretest to 95.8% in the posttest after the education and common cold massage practice sessions. Participants also demonstrated high enthusiasm throughout the activity. This program is expected to improve the competence of Health Services and Caregiver students in providing simple complementary therapy for common cold cases.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><em>Common cold</em> merupakan salah satu gangguan saluran pernapasan atas yang sering terjadi pada anak dan remaja. Penatalaksanaan <em>common cold</em> dapat dilakukan secara farmakologis maupun nonfarmakologis, salah satunya melalui terapi pijat <em>common cold</em>. Berdasarkan hasil analisis situasi di SMK Darussalam Bergas, ditemukan bahwa sebagian besar siswa jurusan Layanan Kesehatan dan <em>Caregiver</em> belum memahami manfaat dan teknik pijat <em>common cold</em> sebagai terapi komplementer untuk membantu mengurangi keluhan batuk pilek. Oleh karena itu, tim pengabdian dari Program Studi Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa edukasi dan pelatihan pijat <em>common cold</em> pada tanggal 16 Desember 2025. Metode kegiatan meliputi analisis situasi, penyuluhan menggunakan media <em>PowerPoint</em> (PPT), demonstrasi pijat menggunakan x-<em>banner</em> dan boneka, serta praktik langsung oleh peserta. Evaluasi dilakukan melalui <em>pretest</em> dan <em>posttest</em> menggunakan kuesioner berisi 10 pertanyaan terkait <em>common cold</em> dan pijat <em>common cold</em>. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan rerata pengetahuan peserta dari 58,9% pada <em>pretest</em> menjadi 95,8% pada <em>posttest</em> setelah diberikan edukasi dan praktik pijat <em>common cold</em>. Peserta juga menunjukkan antusiasme tinggi selama kegiatan berlangsung. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi siswa Layanan Kesehatan dan <em>Caregiver</em> dalam memberikan terapi komplementer sederhana pada kasus <em>common cold</em>.</p> Ida Sofiyanti Luvi Dian Afriyani Heni Setyowati Copyright (c) 2026 Ida Sofiyanti, Luvi Dian Afriyani, Heni Setyowati 2026-05-31 2026-05-31 8 1 91 96 10.35473/ijce.v8i1.5164 Gerakan “Smart Eating Teen" Membangun Kebiasaan Makan Sehat pada Remaja Akhir https://jurnal.unw.ac.id/index.php/IJCE/article/view/5161 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Masa remaja merupakan periode penting dalam pembentukan perilaku hidup sehat, termasuk kebiasaan makan. Namun, rendahnya literasi gizi, tingginya konsumsi <em>Ultra-Processed Food</em> (UPF), serta kebiasaan melewatkan sarapan masih menjadi permasalahan utama pada remaja sekolah menengah kejuruan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa mengenai pola makan sehat melalui program “Gerakan <em>Smart Eating Teen</em>”. Kegiatan dilaksanakan di SMKN 1 Jambu dan SMK-SPP Dharma Lestari Salatiga dengan melibatkan 114 siswa kelas XI dan XII serta 7 guru pendamping. Metode pelaksanaan meliputi pre-test, edukasi interaktif berbasis literasi gizi, kampanye optimalisasi pangan lokal, pemberdayaan guru sebagai <em>health monitor</em>, sesi tanya jawab, dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa yang ditunjukkan dari kenaikan rata-rata nilai pre-test sebesar 62 menjadi 88 pada post-test. Selain itu, siswa menunjukkan antusiasme tinggi dalam memahami pentingnya pemilihan makanan sehat, pembatasan konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak, serta pentingnya sarapan untuk mendukung konsentrasi belajar. Keterlibatan guru juga menjadi faktor pendukung keberhasilan program dalam mengawasi perilaku konsumsi siswa secara berkelanjutan. Program “Gerakan <em>Smart Eating Teen</em>” terbukti efektif dalam meningkatkan literasi gizi dan membangun kesadaran makan sehat pada remaja akhir di lingkungan sekolah.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> <em>smart eating</em>, remaja, literasi gizi, pola makan sehat, <em>ultra-processed food</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p>Adolescence is an important period in the development of healthy lifestyle behaviors, including eating habits. However, low nutritional literacy, high consumption of Ultra-Processed Food (UPF), and the habit of skipping breakfast remain major problems among vocational high school students. This community service activity aimed to improve students’ knowledge and awareness of healthy eating patterns through the “Smart Eating Teen Movement” program. The program was implemented at SMKN 1 Jambu and SMK-SPP Dharma Lestari Salatiga involving 114 students from grades XI and XII and 7 accompanying teachers. The implementation methods included pre-tests, interactive nutrition literacy-based education, local food optimization campaigns, teacher empowerment as health monitors, question-and-answer sessions, and post-tests. The results showed an increase in students’ knowledge, indicated by the improvement in the average pre-test score from 62 to 88 in the post-test. In addition, students demonstrated high enthusiasm in understanding the importance of healthy food choices, limiting foods high in sugar, salt, and fat, and the importance of breakfast to support learning concentration. Teacher involvement also became a supporting factor for the success of the program in continuously monitoring students’ eating behaviors. The “Smart Eating Teen Movement” program proved effective in improving nutritional literacy and building healthy eating awareness among late adolescents in the school environment.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Keywords:</strong> <em>smart eating, adolescents, nutritional literacy, healthy eating patterns, ultra-processed food</em></p> Isfaizah Risma Aliviani Putri Ida Sofiyanti Copyright (c) 2026 Isfaizah, Risma Aliviani Putri, Ida Sofiyanti 2026-05-31 2026-05-31 8 1 97 103 10.35473/ijce.v8i1.5161 Skrining Faktor Risiko Terjadinya Kanker Cerviks Melalui Pemeriksaan IVA Tes https://jurnal.unw.ac.id/index.php/IJCE/article/view/5135 <p><em>Cervical cancer is a leading cause of death in women, particularly in developing countries, largely due to delayed early detection. Preventive measures through risk factor screening and early detection are crucial to reducing the incidence and mortality from cervical cancer. This community service activity aims to screen for cervical cancer risk factors through Visual Inspection with Acetic Acid (VIA) and to increase knowledge and awareness among women of childbearing age regarding the importance of early detection. The methods used in this activity included health education, interviews regarding risk factors, and VIA testing for women of childbearing age. The target group was women aged 20–45 attending the Maria Bunda Karmel Catholic Church in West Jakarta. The data obtained were analyzed descriptively to describe the distribution of risk factors and VIA test results. The results showed that most participants had one or more risk factors, such as early marriage, multiparity, and lack of knowledge about cervical cancer. The VIA test revealed several participants with positive results who were then referred for further examination. Furthermore, participants' knowledge increased after receiving health education. The conclusion of this activity is that screening through the VIA test is effective as an early detection method for cervical cancer in the community and can increase women's awareness of the importance of regular screenings. It is hoped that this activity can be carried out continuously to reduce the incidence of cervical cancer.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kanker serviks merupakan salah satu penyebab utama kematian pada perempuan, khususnya di negara berkembang, yang sebagian besar disebabkan oleh keterlambatan deteksi dini. Upaya pencegahan melalui skrining faktor risiko dan deteksi dini sangat penting untuk menurunkan angka kejadian dan kematian akibat kanker serviks. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk melakukan skrining faktor risiko terjadinya kanker serviks melalui pemeriksaan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) serta meningkatkan pengetahuan dan kesadaran wanita usia subur mengenai pentingnya deteksi dini. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi penyuluhan kesehatan, wawancara terkait faktor risiko, serta pemeriksaan IVA Test pada wanita usia subur sebanyak 38 orang. Sasaran kegiatan adalah wanita usia 20–45 tahun yang berada di Gereja Katolik Maria Bunda Karmel Jakarta Barat. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan distribusi faktor risiko dan hasil pemeriksaan IVA. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebagian besar peserta memiliki satu atau lebih faktor risiko, seperti usia pernikahan dini, multiparitas, dan kurangnya pengetahuan tentang kanker serviks. Pemeriksaan IVA menunjukkan adanya beberapa peserta dengan hasil positif yang kemudian dirujuk untuk pemeriksaan lanjutan. Selain itu, terjadi peningkatan pengetahuan peserta sebesar 20% setelah diberikan edukasi kesehatan. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah skrining melalui IVA Test efektif sebagai metode deteksi dini kanker serviks di masyarakat serta dapat meningkatkan kesadaran wanita terhadap pentingnya pemeriksaan rutin. Diharapkan kegiatan ini dapat dilakukan secara berkelanjutan untuk menurunkan angka kejadian kanker serviks.</p> Ernawati Fitria Endah Purwani Huzaimah Nurohmah Copyright (c) 2026 Ernawati, Fitria Endah Purwani, Huzaimah, Nurohmah 2026-05-29 2026-05-29 8 1 104 109 10.35473/ijce.v8i1.5135 Edukasi Penyakit dan Penggunaan Obat Dispepsia pada Lansia Prolanis Rejosari Dawe Kudus https://jurnal.unw.ac.id/index.php/IJCE/article/view/5149 <p><em>Dyspepsia is a digestive tract disorder that almost everyone experiences, but some people still do not understand the symptoms that arise. Therapies used are generally over-the-counter and restricted-prescription drugs. Some drugs for dyspepsia disorders have specific uses such as being taken before meals, chewed. The lack of information on the use of dyspepsia drugs will result in less than optimal dyspepsia recovery. The purpose of this activity is to provide education and evaluate the level of understanding of the Rejosari elderly regarding the disease, use and storage of dyspepsia drugs. The initial stages of the activity include observation, licensing, implementation of activities and evaluation. This Community Service activity was attended by 30 Prolanis Rejosari elderly, who completed a questionnaire about dyspepsia, then delivered material and evaluated understanding of the material with a post-test. The questionnaire results showed that the Community Service activity was dominated by elderly women aged 76.7%, housewives (60%), and the highest education level was elementary school (40%). The level of understanding of dyspepsia among the elderly was good (63.3%), and their understanding of the use and storage of dyspepsia medication was good (93.33%). There was no significant relationship between age, gender, and education levels and understanding of dyspepsia (p&gt;0.05). Education through PPT and poster media can improve knowledge and understanding of dyspepsia (p&lt;0.05).</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Dispepsia merupakan gangguan saluran cerna yang hampir dialami oleh semua orang, tetapi beberapa masyarakat masih belum memahami gejala-gejala yang timbul. Terapi yang digunakan umumnya obat-obat golongan bebas dan bebas terbatas. Beberapa obat untuk gangguan dispepsia memiliki penggunaan secara khusus seperti diminum sebelum makan, dikunyah. Minimnya informasi penggunaan obat-obatan dispepsia akan menyebabkan tidak optimalnya kesembuhan dispepsia. Tujuan kegiatan ini untuk memberikan edukasi serta mengevaluasi tingkat pemahaman lansia Rejosari terhadap penyakit, penggunaan dan penyimpanan obat dispepsia. Tahapan awal kegiatan dengan melakukan observasi, perizinan, pelaksanaan kegiatan serta evaluasi. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini diikuti 30 lansia Prolanis Rejosari, dengan pengisian kuesioner tentang dyspepsia , kemudian penyampaian materi dan evaluasi pemahaman materi dengan postes. Hasil kuesioner menunjukkan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat didominasi lansia perempuan usia (76,7%), status pekerjaan ibu rumah tangga (60%), tingkat pendidikan paling banyak SD (40%). Tingkat pemahaman lansia terhadap penyakit dispepsia kategori baik (63,3%) dan pemahaman tentang penggunaa dan penyimpanan obat dispepsia kategori baik (93,33%). Tidak terdapat hubungan signifikan antara usia, jenis kelamin, pendidikan terhadap pemahaman tentang dispepsia (p&gt;0,05). Edukasi melalui media ppt dan poster dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang penyakit dispepsia (p&lt;0,05).</p> Istianatus Sunnah Muhammad Khudzaifi Indriati Hapsari Fadli Akbar Faizin Sofiana Nur Mardhiyah Titis Yunita Erditia Faizal Ardiansyah Copyright (c) 2026 Istianatus Sunnah, Muhammad Khudzaifi, Indriati Hapsari, Fadli Akbar Faizin, Sofiana Nur Mardhiyah, Titis Yunita Erditia, Faizal Ardiansyah 2026-05-29 2026-05-29 8 1 110 117 10.35473/ijce.v8i1.5149 Pelatihan dan Pendampingan Kebugaran dan Kesehatan untuk Anak Penyandang Disabilitas di SKh 01, Kabupaten Lebak https://jurnal.unw.ac.id/index.php/IJCE/article/view/5170 <p><em>Low physical activity participation and the lack of structured fitness programs in special schools (SKh) lead to a high risk of secondary health problems among children with disabilities. This community service activity aimed to improve physical fitness and health knowledge of children, as well as to equip teachers and parents with adaptive exercise facilitation skills at SKh 01 Lebak Regency, Banten. The method used a participatory approach with four stages: preparation, training, implementation mentoring, and evaluation. The intervention included adaptive gymnastics, circuit games, game-based nutrition and personal hygiene education, and the development of a daily exercise program. Results showed significant improvements in flexibility, muscle strength, cardiorespiratory endurance (p&lt;0.001), and health knowledge scores (from 51.2 to 79.8; p&lt;0.001). Teachers' and parents' capacity to guide adaptive physical activity increased, and the school has integrated the program into its regular schedule. This model has proven effective and has the potential to be replicated in other special schools.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Rendahnya partisipasi aktivitas fisik dan minimnya program kebugaran terstruktur di sekolah khusus (SKh) menimbulkan risiko kesehatan sekunder yang tinggi pada anak penyandang disabilitas (tunagrahita ringan, tunadaksa ringan, tunarungu, tuna netra). Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kebugaran jasmani dan pengetahuan kesehatan anak, serta membekali guru dan orang tua dengan keterampilan pendampingan latihan adaptif di SKh 01 Kabupaten Lebak, Banten. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif dengan empat tahapan, yaitu persiapan, pelatihan, pendampingan implementasi, dan evaluasi. Intervensi meliputi senam adaptif, permainan sirkuit, edukasi gizi dan kebersihan diri berbasis permainan, serta penyusunan program latihan harian. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada fleksibilitas, kekuatan otot, daya tahan kardiorespirasi (p&lt;0.001), serta skor pengetahuan kesehatan (dari 51.2 menjadi 79.8; p&lt;0.001). Kapasitas guru dan orang tua dalam memandu aktivitas fisik adaptif meningkat dan sekolah telah mengintegrasikan program ke dalam jadwal rutin. Model ini terbukti efektif dan berpotensi direplikasi di SKh lain. </p> Dena Widyawan Mochamad Derry Prasaja Rizki khoirul Yakin Sul Abidin Weny Widyawati Bastaman Copyright (c) 2026 Dena Widyawan, Mochamad Derry Prasaja, Rizki khoirul Yakin, Sul Abidin, Weny Widyawati Bastaman 2026-05-29 2026-05-29 8 1 118 125 10.35473/ijce.v8i1.5170