Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Objek Wisata di Bandungan Menggunakan Metode AHP dan GIS
DOI:
https://doi.org/10.35473/ikn.v3i2.5422Keywords:
Sistem Pendukung Keputusan. Objek Wisata. Bandungan. AHP. GISAbstract
Bandungan is one of the leading tourism areas in Semarang Regency, offering various natural, artificial, and cultural attractions. The large number of tourist destinations often makes it difficult for visitors to determine the most suitable destination based on their preferences. This study aims to develop a Decision Support System (DSS) for selecting tourist attractions in Bandungan using the Analytical Hierarchy Process (AHP) integrated with a Geographic Information System (GIS). AHP is applied to determine the priority weight of each criterion, while GIS is used to visualize the spatial distribution of tourist attractions through digital maps. The study employs six evaluation criteria, namely ticket price, accessibility, facilities, natural beauty, cleanliness, and visitor rating, involving ten tourist destinations as alternatives. The results indicate that natural beauty has the highest priority weight of 0.365685, whereas ticket price has the lowest weight of 0.051548. The consistency test produced a Consistency Ratio (CR) of 0.0118, indicating that the pairwise comparison matrix is consistent. Based on the ranking results, Taman Bunga Celosia Bandungan achieved the highest preference value of 2.637046, making it the most recommended tourist destination. The integration of AHP and GIS provides objective recommendations while enabling users to visualize the geographical location of tourist attractions interactively.
ABSTRAK
Bandungan merupakan salah satu kawasan wisata unggulan di Kabupaten Semarang yang memiliki beragam destinasi wisata. Banyaknya opsi wisata menyebabkan wisatawan mengalami kesulitan dalam menentukan destinasi yang paling sesuai dengan kebutuhan dan preferensi yang diinginkan. Penelitian ini bertujuan untuk membangun Sistem Pendukung Keputusan (SPK) yang dapat memberikan rekomendasi objek wisata terbaik di Kecamatan Bandungan dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) yang dipadukan dengan Geographic Information System (GIS). Metode AHP digunakan untuk menentukan bobot prioritas setiap kriteria, sedangkan GIS digunakan untuk menampilkan persebaran lokasi objek wisata secara spasial melalui peta digital. Penelitian menggunakan enam kriteria yaitu harga tiket, aksesibilitas, fasilitas, keindahan alam, kebersihan, dan rating pengunjung dengan sepuluh alternatif objek wisata. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa kriteria keindahan alam menjadi bobot terbesar sebesar 0,365685, sedangkan harga tiket memiliki bobot terkecil sebesar 0,051548. Pengujian konsistensi menghasilkan nilai Consistency Ratio (CR) sebesar 0,0118, sehingga matriks perbandingan dinyatakan konsisten. Berdasarkan hasi rangking, objek wisata Taman Bunga Celosia Bandungan memperoleh nilai preferensi tertinggi sebesar 2,637046, sehingga menjadi rekomendasi sebagai objek wisata terbaik di Kecamatan Bandungan. Integrasi AHP dan GIS mampu membantu wisatawan memperoleh rekomendasi destinasi wisata secara objektif sekaligus menampilkan informasi lokasi secara interaktif.
Downloads
References
Afnarius, S., & Putra, H. Y. (2017). Pengembangan aplikasi Web GIS pariwisata backpacker. Deepublish.
Ardiansyah, A., Suleman, S. J. K., & Marlantika, R. T. (2021). Sistem informasi pariwisata dan kuliner (SIPAKU) berbasis Web GIS di Tegal.
Firliana, R., Kasih, P., & Suprapto, A. (2016). Pemanfaatan GIS untuk sistem informasi pariwisata. Nusantara of Engineering (NOE), 3(1).
Ghamgosar, M., Haghyghy, M., Mehrdoust, F., & Arshad, N. (2011). Multicriteria decision making based on analytical hierarchy process (AHP) in GIS for tourism. Middle-East Journal of Scientific Research, 10(4), 501–507.
Hanindito, G. A., & Laspandi, J. D. (2023). Pengembangan aplikasi pariwisata Kotawaringin Barat berbasis GIS menuju smart tourism city. Jurnal Media Infotama, 19(2), 564–571.
Hareen, Z. T. G. (2016). Analisis potensi pengembangan pariwisata pendekatan AHP (Analytical Hierarchy Process) pada jenis obyek wisata alam, wisata budaya dan wisata alternatif di Kabupaten Bojonegoro. Swara Bhumi, 1(2).
Hoang, H. T., Truong, Q. H., Nguyen, A. T., & Hens, L. (2018). Multicriteria evaluation of tourism potential in the Central Highlands of Vietnam: Combining geographic information system (GIS), analytic hierarchy process (AHP), and principal component analysis (PCA). Sustainability, 10(9), 3097.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. (2020). Pedoman komponen pengembangan destinasi pariwisata (5A). Kemenparekraf RI.
Kusumawardhani, Y., Kurniawan, T., & Hariani, D. (2024). Sistem pendukung pariwisata berkelanjutan yang cerdas menggunakan metode AHP sebagai rekomendasi pembangunan desa wisata berkelanjutan. Jurnal Ilmiah Pariwisata, 29(3), 362–373.
Maaiah, B., Al-Badarneh, M., & Al-Shorman, A. (2023). Mapping potential nature-based tourism in Jordan using AHP, GIS and remote sensing. Journal of Ecotourism, 22(2), 260–280.
Meyana, L., Sudadi, U., & Tjahjono, B. (2015). Arahan dan strategi pengembangan areal bekas tambang timah sebagai kawasan pariwisata di Kabupaten Bangka. Journal of Natural Resources and Environmental Management, 5(1).
Mill, R. C. (2008). Tourism: The international business (3rd ed.). RajaGrafindo Persada.
Mobaraki, O., Abdollahzadeh, M., & Kamelifar, Z. (2014). Site suitability evaluation for ecotourism using GIS and AHP: A case study of Isfahan Townships, Iran. Management Science Letters, 4(8), 1893–1898.
Nisa, K., Mashudi, I. A., & Harijanto, B. (2025). Perangkingan skala prioritas pemenuhan sarana prasarana destinasi wisata di Kabupaten Sumenep menggunakan metode Fuzzy AHP. JUSTIN (Jurnal Sistem dan Teknologi Informasi), 13(1), 109–120.
Parameswari, P. L., Astuti, I., & Ariestya, W. W. (2022). Implementasi metode AHP pada sistem pendukung keputusan pariwisata Jawa Timur. Jurnal Teknoinfo, 16(1), 40.
Podomi, J. M., Katili, M. R., & Ahaliki, B. (2024). Pengembangan sistem informasi pariwisata menggunakan metode prototype berbasis Web GIS di Dinas Pariwisata Kabupaten Bone Bolango. Diffusion: Journal of Systems and Information Technology, 4(1), 74–91.
Pratiwi, A., & Setiawan, B. (2026). Sistem pendukung keputusan pemilihan objek wisata di Lampung Selatan menggunakan metode analytical hierarchy process (AHP). Jurnal Teknologi Informasi dan Sistem Informasi, 12(1), 45–53.
Putri, I. L., Nurjahjaningtyas, I., & Alfiah, R. (2020). Konsep pengembangan infrastruktur pariwisata Pantai Bandealit dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Matrapolis: Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, 2(2), 59–71.
Sigalingging, F. (2025). Sistem pendukung keputusan untuk menentukan lokasi wisata terbaik menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) (Doctoral dissertation, Universitas Katolik Santo Thomas).
Sirait, T., Lubis, R. P., & Hidayat, W. (2025). Studi banding penggunaan GIS untuk pengembangan pariwisata berkelanjutan dan inventarisasi lahan kritis: Pendekatan dalam perencanaan wilayah dan kota. GOVERNANCE: Jurnal Ilmiah Kajian Politik Lokal dan Pembangunan, 11(3), 36–43.
Suriadi, N. A., & Mulawarman, A. (2022). Penggunaan metode AHP dalam menentukan tingkat kepentingan kriteria lokasi potensial pengembangan wisata pantai di Kabupaten Majene. Bandar: Journal of Civil Engineering, 4(2), 21–28.
Talakua, J. C. E., Pangestika, R. S., & Rifai, A. (2025). Analisis kesesuaian lokasi fasilitas kesehatan pariwisata dengan pendekatan network dan SMCA–AHP di Kecamatan Kuta Selatan. Journal of Geographical Sciences and Education, 3(4), 323–342.
Utama, I. G. B. R. (2017). Pemasaran pariwisata. Andi Offset.
Wulung, S. R. P. (2021). Pendekatan spasial untuk pengembangan destinasi pariwisata berkelanjutan. Tornare: Journal of Sustainable and Research, 3(2), 68–73.
