https://jurnal.unw.ac.id/index.php/IKN/issue/feed Jurnal Informatika dan Kesehatan 2026-08-31T00:00:00+00:00 Agung Wibowo [email protected] Open Journal Systems <p>IKN : Jurnal Informatika dan Kesehatan merupakan peer reviewed journal di bidang informatika dan Kesehatan. Jurnal ini diterbitkan 6 bulan dalam setahun (Februari dan Agustus) oleh Universitas Ngudi Waluyo, Indonesia. Manuskrip yang dikirim oleh penulis direview secara double-blind reviewed. Tulisan-tulisan yang diterima dipublikasikan secara daring </p> https://jurnal.unw.ac.id/index.php/IKN/article/view/5434 Penerapan Terapi Musik Klasik pada Pasien Skizofrenia untuk Mengatasi Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran di RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang 2026-07-29T07:41:19+00:00 Yajhidun Ni'am [email protected] Ana Puji Astuti [email protected] <p><em>Auditory hallucinations is one of the most common nursing problems experienced by patients with schizophrenia. Auditory hallucinations may interfere with concentration, increase anxiety, affect behavior, and reduce patients’ ability to interact with their surroundings. Classical music therapy is a complementary non-pharmacological intervention that provides relaxation and distraction from internal stimuli. This study aimed to describe the nursing management of sensory perception disturbance: auditory hallucinations through classical music therapy in a patient with schizophrenia at RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang. This study employed a descriptive case study design using the nursing process approach, including assessment, nursing diagnosis, intervention, implementation, and evaluation. The subject was one patient with schizophrenia diagnosed with sensory perception disturbance: auditory hallucinations. Data were collected through interviews, observation, physical examination, and documentation. Nursing care was provided for three consecutive days, while classical music therapy was administered for 15–30 minutes on the third day as a complementary intervention. The implementation of nursing care combined with classical music therapy reduced the frequency and duration of auditory hallucinations. The patient appeared calmer, was able to recognize the signs of hallucinations, demonstrated improved ability to control hallucinations using the techniques that had been taught, became more cooperative during nursing care, and showed better social interaction. Although auditory hallucinations still occurred occasionally, their intensity decreased and the nursing problem was considered partially resolved.Classical music therapy as part of comprehensive nursing care may help reduce the symptoms of auditory hallucinations and improve patients’ ability to control hallucinations. Therefore, classical music therapy can be considered a complementary nursing intervention for patients with schizophrenia experiencing sensory perception disturbance: auditory hallucinations.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran merupakan salah satu masalah keperawatan yang paling sering dijumpai pada pasien skizofrenia. Halusinasi pendengaran dapat menyebabkan gangguan konsentrasi, meningkatkan kecemasan, memengaruhi perilaku, serta menurunkan kemampuan pasien dalam berinteraksi dengan lingkungan. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat digunakan sebagai terapi pendamping adalah terapi musik klasik yang memberikan efek relaksasi dan distraksi terhadap stimulus internal. Tujuan penulisan artikel ini adalah mendeskripsikan pengelolaan gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran melalui terapi musik klasik pada pasien skizofrenia di RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang. Metode yang digunakan adalah studi kasus deskriptif dengan pendekatan proses keperawatan meliputi pengkajian, diagnosis keperawatan, intervensi, implementasi, dan evaluasi. Subjek penelitian adalah satu pasien skizofrenia dengan diagnosis keperawatan Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan dokumentasi. Asuhan keperawatan dilaksanakan selama tiga hari, sedangkan terapi musik klasik diberikan selama 15–30 menit pada hari ketiga sebagai terapi komplementer. Hasil pengelolaan menunjukkan adanya penurunan frekuensi dan durasi halusinasi pendengaran. Pasien tampak lebih tenang, mampu mengenali tanda dan gejala halusinasi, mampu menerapkan teknik mengontrol halusinasi yang telah diajarkan, lebih kooperatif selama proses perawatan, serta mulai berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Meskipun halusinasi masih muncul sesekali, intensitasnya menurun sehingga masalah keperawatan dinyatakan teratasi sebagian. Penerapan terapi musik klasik sebagai bagian dari asuhan keperawatan dapat membantu mengurangi gejala halusinasi pendengaran dan meningkatkan kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi. Terapi musik klasik dapat dipertimbangkan sebagai intervensi pendukung dalam asuhan keperawatan pasien skizofrenia dengan gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran.</p> 2026-08-29T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Informatika dan Kesehatan https://jurnal.unw.ac.id/index.php/IKN/article/view/4864 Implementasi Machine Learning untuk Prediksi Performa Lari Berdasarkan Data Strava 2026-01-11T07:05:52+00:00 Ardi Kurniawan [email protected] Didiet Hendrawan [email protected] Agung Wibowo [email protected] <p><em>This research aimed to examine the utilization of running activity data obtained from the Strava platform in developing a machine learning–based model for predicting running performance. The main issue underlying this study was the suboptimal use of runners’ daily activity data as a scientific foundation for designing predictive and personalized training programs. This study implemented machine learning algorithms to predict running performance by using distance, speed, training duration, elevation changes, and heart rate as input variables. A quantitative method was applied through multiple linear regression analysis on 120 samples of running activity data. The results showed that speed was the most influential factor, contributing 54.02% to performance variation, followed by distance at 37.45% and heart rate at 29.27%. The developed model was able to explain more than 50% of the variation in running performance, with low prediction error rates based on Mean Absolute Error (MAE) and Root Mean Square Error (RMSE). These findings indicate that the integration of machine learning and Strava data is effective in producing accurate and practical running performance predictions.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan data aktivitas lari yang diperoleh dari platform Strava dalam membangun model prediksi performa lari berbasis machine learning. Permasalahan utama yang melatarbelakangi penelitian ini adalah belum maksimalnya pemanfaatan data aktivitas harian pelari sebagai dasar ilmiah dalam perancangan program latihan yang bersifat prediktif dan personal. Penelitian ini mengimplementasikan algoritma machine learning untuk memprediksi performa lari dengan menggunakan variabel jarak tempuh, kecepatan, durasi latihan, perubahan elevasi, dan denyut jantung. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif melalui analisis regresi linear berganda terhadap 120 sampel data aktivitas lari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecepatan merupakan faktor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap variasi performa sebesar 54,02%, disusul oleh jarak tempuh sebesar 37,45% dan denyut jantung sebesar 29,27%. Model yang dikembangkan mampu menjelaskan lebih dari 50% variasi performa lari dengan tingkat kesalahan prediksi yang rendah berdasarkan nilai Mean Absolute Error (MAE) dan Root Mean Square Error (RMSE). Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi machine learning dengan data Strava efektif dalam menghasilkan prediksi performa lari yang akurat dan aplikatif.</p> 2026-08-29T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Informatika dan Kesehatan https://jurnal.unw.ac.id/index.php/IKN/article/view/5177 Profil Urinalisa Pasien Diabetes Tipe-2 dengan Terapi Antidiabetik Oral Sebagai Skrining Disfungsi Ginjal di RSUD Bahteramas Sulawesi Tenggara 2026-05-30T06:41:56+00:00 Muhammad Ilyas Y. [email protected] Darmayanita Wenty [email protected] Kemal Idris Balaka [email protected] Aprianto [email protected] Immel Putri Qaila [email protected] Adriatman Rasak [email protected] Halik [email protected] Nurhikma [email protected] <p><em>Type-2 diabetes mellitus (DM) is a chronic metabolic disease with a high risk of microvascular complications, one of which is diabetic nephropathy. Oral antidiabetic medications are the primary choice for type-2 DM patients to control blood sugar; however, they must be used appropriately, safely, and effectively, as improper use may lead to side effects such as impaired kidney function. Therefore, urinalysis serves as a simple initial screening method to detect impaired kidney function. However, data regarding urinalysis profiles in type-2 DM patients receiving oral antidiabetic therapy at Bahteramas General Hospital remain limited. This study aims to determine the urinalysis profile in patients with type-2 diabetes undergoing oral antidiabetic therapy as an early detection method for kidney dysfunction. This study uses a descriptive design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 40 patients with type-2 diabetes undergoing oral antidiabetic therapy who met the inclusion criteria. Urinalysis was performed qualitatively via urine macroscopy, semi-quantitatively using dipsticks, and through microscopic analysis of urine sediment. Of the 40 samples analyzed, the chemical test results showed glucose at 52.5%, protein at 62.5%, erythrocytes at 67.5%, and leukocytes at 40%. Microscopic examination revealed the following results: 50% leukocytes, 100% erythrocytes, 52.5% epithelial cells, 12.5% crystals, and 25% bacteria. These findings indicate a possible impairment of kidney function in some patients on oral antidiabetic therapy. It is recommended to routinely perform follow-up blood tests for creatinine and urea/BUN as an initial screening to detect complications of renal dysfunction in diabetic patients.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Diabetes melitus (DM) tipe-2 merupakan penyakit metabolik kronik yang berisiko tinggi menimbulkan komplikasi mikrovaskular, salah satunya adalah nefropati diabetik. Penggunaan obat antidiabetik oral merupakan pilihan utama pada pasien DM tipe-2 untuk mengontrol gula darah, namun harus disertai dengan penggunaan yang tepat, aman dan efisien dimana, penggunaan yang kurang tepat dapat beresiko pada efek samping gangguan fungsi ginjal. Oleh karena itu, pemeriksaan urinalisa menjadi metode skrining awal yang sederhana untuk mendeteksi gangguan fungsi ginjal. Namun, data mengenai profil urinalisa pada pasien DM tipe-2 dengan terapi antidiabetik oral di RSUD Bahteramas masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil urinalisa pada pasien DM tipe-2 yang menjalani terapi antidiabetik oral sebagai deteksi dini terhadap disfungsi ginjal. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Sampel terdiri dari 40 pasien DM tipe-2 yang menjalani terapi antidiabetik oral dan memenuhi kriteria inklusi. Pemeriksaan urinalisa dilakukan secara kualitatif dengan makroskopis urine, semi-kuantitatif menggunakan dipstick dan analisis mikroskopis sedimen urin. Dari 40 sampel yang dianalisis ditemukan hasil pemeriksaan kimia glukosa sebesar 52,5%, protein 62,5%, eritrosit 67,5%, leukosit 40%. Sedangkan pada pemeriksaan mikroskopis ditemukan hasil leukosit sebanyak 50%, eritrosit 100%, sel epitel 52,5%, kristal 12,5%, dan bakteri 25% .Temuan ini mengindikasikan kemungkinan adanya gangguan fungsi ginjal pada sebagian pasien menjalani terapi antidiabetik oral. Disarankan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan kreatinin dan Ureum/BUN darah secara rutin sebagai skrining awal mendeteksi komplikasi disfungsi ginjal pada pasien diabetes. </p> 2026-08-29T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Informatika dan Kesehatan https://jurnal.unw.ac.id/index.php/IKN/article/view/5422 Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Objek Wisata di Bandungan Menggunakan Metode AHP dan GIS 2026-07-23T06:34:50+00:00 Sendi Afianto [email protected] Agung Wibowo [email protected] <p><em>Bandungan is one of the leading tourism areas in Semarang Regency, offering various natural, artificial, and cultural attractions. The large number of tourist destinations often makes it difficult for visitors to determine the most suitable destination based on their preferences. This study aims to develop a Decision Support System (DSS) for selecting tourist attractions in Bandungan using the Analytical Hierarchy Process (AHP) integrated with a Geographic Information System (GIS). AHP is applied to determine the priority weight of each criterion, while GIS is used to visualize the spatial distribution of tourist attractions through digital maps. The study employs six evaluation criteria, namely ticket price, accessibility, facilities, natural beauty, cleanliness, and visitor rating, involving ten tourist destinations as alternatives. The results indicate that natural beauty has the highest priority weight of 0.365685, whereas ticket price has the lowest weight of 0.051548. The consistency test produced a Consistency Ratio (CR) of 0.0118, indicating that the pairwise comparison matrix is consistent. Based on the ranking results, Taman Bunga Celosia Bandungan achieved the highest preference value of 2.637046, making it the most recommended tourist destination. The integration of AHP and GIS provides objective recommendations while enabling users to visualize the geographical location of tourist attractions interactively.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Bandungan merupakan salah satu kawasan wisata unggulan di Kabupaten Semarang yang memiliki beragam destinasi wisata. Banyaknya opsi wisata menyebabkan wisatawan mengalami kesulitan dalam menentukan destinasi yang paling sesuai dengan kebutuhan dan preferensi yang diinginkan. Penelitian ini bertujuan untuk membangun Sistem Pendukung Keputusan (SPK) yang dapat memberikan rekomendasi objek wisata terbaik di Kecamatan Bandungan dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) yang dipadukan dengan Geographic Information System (GIS). Metode AHP digunakan untuk menentukan bobot prioritas setiap kriteria, sedangkan GIS digunakan untuk menampilkan persebaran lokasi objek wisata secara spasial melalui peta digital. Penelitian menggunakan enam kriteria yaitu harga tiket, aksesibilitas, fasilitas, keindahan alam, kebersihan, dan rating pengunjung dengan sepuluh alternatif objek wisata. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa kriteria keindahan alam menjadi bobot terbesar sebesar 0,365685, sedangkan harga tiket memiliki bobot terkecil sebesar 0,051548. Pengujian konsistensi menghasilkan nilai Consistency Ratio (CR) sebesar 0,0118, sehingga matriks perbandingan dinyatakan konsisten. Berdasarkan hasi rangking, objek wisata Taman Bunga Celosia Bandungan memperoleh nilai preferensi tertinggi sebesar 2,637046, sehingga menjadi rekomendasi sebagai objek wisata terbaik di Kecamatan Bandungan. Integrasi AHP dan GIS mampu membantu wisatawan memperoleh rekomendasi destinasi wisata secara objektif sekaligus menampilkan informasi lokasi secara interaktif.</p> 2026-08-29T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Informatika dan Kesehatan https://jurnal.unw.ac.id/index.php/IKN/article/view/5550 Pengetahuan Ibu sebagai Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Pencegahan TB pada Anak Kontak Serumah 2026-08-27T01:15:41+00:00 Fiki Wijayanti [email protected] Natalia Devi [email protected] Fahri [email protected] <p><em>Tuberculosis (TB) remains a major public health problem, particularly among children living in the same household as patients with TB. Children are at high risk of infection and disease progression; therefore, maternal involvement as the primary caregiver is essential in implementing preventive measures. Mothers’ knowledge is considered an important factor associated with their ability to practice TB prevention for children. Preventive measures include contact screening, cough etiquette, improving household ventilation, reducing exposure, and providing tuberculosis preventive treatment when indicated. This study aimed to analyze the relationship between maternal knowledge and tuberculosis prevention behaviors among children who were household contacts of patients with TB. A quantitative cross-sectional study was conducted among 68 mothers. Data were collected using questionnaires assessing maternal knowledge and TB prevention behaviors in children. Knowledge was categorized as low or high, while prevention behavior was classified as poor, moderate, or good. Univariate analysis was used to describe frequency distributions, and bivariate analysis was performed using the Chi-square test with a significance level of 0.05. Most mothers had a high level of knowledge, accounting for 44 respondents (64.7%), while 24 respondents (35.3%) had low knowledge. Prevention behavior was most frequently categorized as good in 30 respondents (44.1%), followed by moderate in 21 respondents (30.9%) and poor in 17 respondents (25.0%). Among mothers with high knowledge, 24 of 44 (54.5%) demonstrated good prevention behavior. Among mothers with low knowledge, 10 of 24 (41.7%) demonstrated poor prevention behavior. The Chi-square test showed a p-value of 0.026, indicating a significant association between maternal knowledge and TB prevention behaviors in children. Maternal knowledge was significantly associated with TB prevention behaviors among child household contacts. Structured family education should be strengthened to improve understanding and implementation of TB prevention practices at home.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama pada anak yang tinggal serumah dengan pasien TB. Anak memiliki risiko tinggi terinfeksi dan mengalami progresi penyakit, sehingga keterlibatan ibu sebagai caregiver sangat penting dalam pelaksanaan pencegahan. Pengetahuan ibu diduga berkaitan dengan kemampuan menerapkan perilaku pencegahan TB pada anak. Upaya pencegahan mencakup skrining kontak, penerapan etika batuk, perbaikan ventilasi rumah, pengurangan paparan, serta pelaksanaan terapi pencegahan tuberkulosis sesuai indikasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan perilaku pencegahan tuberkulosis pada anak kontak serumah dengan pasien TB. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional pada 68 ibu. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan dan perilaku pencegahan TB pada anak. Tingkat pengetahuan dikategorikan menjadi rendah dan tinggi, sedangkan perilaku pencegahan dikategorikan menjadi kurang, cukup, dan baik. Analisis univariat digunakan untuk menggambarkan distribusi frekuensi, sedangkan analisis bivariat menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan 0,05. Sebagian besar ibu memiliki tingkat pengetahuan tinggi, yaitu 44 responden (64,7%), sedangkan 24 responden (35,3%) memiliki pengetahuan rendah. Perilaku pencegahan paling banyak berada pada kategori baik sebanyak 30 responden (44,1%), diikuti kategori cukup 21 responden (30,9%) dan kurang 17 responden (25,0%). Pada kelompok pengetahuan tinggi, 24 dari 44 ibu (54,5%) memiliki perilaku pencegahan baik. Pada kelompok pengetahuan rendah, 10 dari 24 ibu (41,7%) memiliki perilaku pencegahan kurang. Hasil uji Chi-square menunjukkan p=0,026, sehingga terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan ibu dan perilaku pencegahan TB pada anak. Pengetahuan ibu berhubungan dengan perilaku pencegahan TB pada anak kontak serumah. Edukasi keluarga yang terstruktur perlu diperkuat untuk meningkatkan pemahaman dan penerapan perilaku pencegahan TB pada anak. Temuan ini dapat menjadi dasar bagi perawat dan tenaga kesehatan dalam menyusun edukasi yang lebih terarah, bagi keluarga dengan anak kontak serumah agar tindakan pencegahan diterapkan di rumah.</p> 2026-08-29T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Informatika dan Kesehatan https://jurnal.unw.ac.id/index.php/IKN/article/view/5563 Analisis Sentimen Ulasan Penggunaan Aplikasi GetContact Menggunakan Orange Data Mining sebagai Dasar Strategi Peningkatan Kualitas Layanan 2026-08-27T03:07:16+00:00 Isnatun Naili [email protected] Eko Nur Hermansyah [email protected] <p><em>The growth of phone number identification applications drives companies to continuously improve service quality to meet user needs and expectations. User reviews available on the Google Play Store serve as a valuable source of information for evaluating service quality. This study aims to analyze the sentiment of user reviews for the GetContact application to inform strategies for enhancing service quality. The dataset, obtained publicly from Kaggle, comprises 1,000 user reviews of the GetContact application. Analysis was conducted using Orange Data Mining, involving stages such as text preprocessing, word cloud visualization, and sentiment categorization. Sentiment labels were assigned based on user ratings: ratings of 1–2 indicated negative sentiment, a rating of 3 indicated neutral sentiment, and ratings of 4–5 indicated positive sentiment. The results show that 49.50% of the reviews reflected positive sentiment, 40.60% reflected negative sentiment, and 9.90% reflected neutral sentiment. Word cloud visualization revealed that words such as "helpful," "app," "number," and "update" frequently appeared in reviews containing complaints. These findings indicate that while the majority of users responded positively to the application's core functionality, the company still needs to improve service quality—specifically regarding system stability, the authentication process, and the development of premium features. The study's findings are expected to assist the company in formulating strategies to enhance service quality and customer satisfaction.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRA</strong><strong>K</strong></p> <p>Perkembangan aplikas identifikasi nomor telpon mendorong perusahaan untuk terus meningkatkan kualitas layanan agar mampu memenuhi kebutuhan dan harapan pengguna.salah satu sumber informasi yang dimanfaatkan untuk mengevaluasi kualitas layanan adalah ulasan pengguna yang tersedia pada Google Play Store. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sentimen ulasan pengguna aplikasi GetContact sebagai sumber dalam penyusunan strategi peningkatan kualitas layanan. Data set yang merupakan dataset publik yang di peroleh dari kaggle, terdiri atas 1.000 ulasan pengguna aplikasi GetContact. Proses analisis dilakukan menggunakan orange data mining melalui tahapan text preprocessing, visualisasi word cloud, dan pengelompokan sentimen. Label sentimen dibentuk berdasarkan nilai rating pengguna, yaitu rating 1-2 sebagai sentimen negatif, reting 3 sebagai sentimen netral, dan 4-5 sebagai sentimen positif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 49,50 % ulasan termasuk sentimen positif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 4,9 50 % ulasan termasuk sentimen positif, 40,60% sentimen negatif, dan 9,90% sentimen netral. Visualisasi word cloud menunjukkan bahwa kata kata seperti membantu, aplikasi, nomor, dan update banyak muncul pada ulasan yang mengandung keluhan. Temua ini menunjukkan bahwa meskipun mayoritas pengguna memberikan tanggapan positif terhadap fungsi utama aplikasi, perusahaan tetap perlu meningkatkan kualitas layanan, khususnya pada aspek stablilitas sistem, proses autentikasi, dan pengembangan fitur preium. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi perusahaan dalam merumuskan strategi peningktana kualitas layanan dan kepuasan pelanggan.</p> <p><em> </em></p> 2026-08-29T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Informatika dan Kesehatan