Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan
https://jurnal.unw.ac.id/index.php/PJ
<div class="body"> <div class="description"> <div style="border: 2px #444F71 solid; padding: 3px; background-color: #f0ffff; text-align: left;"> <ol> <li class="show">Nama Jurnal : Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan</li> <li class="show">Singkatan: PJ</li> <li class="show">Frekuensi: January & July</li> <li class="show">ISSN: Print 2654-8232 | Online 2654-797X</li> <li class="show">Editor in Chief:Kartika Dian Pertiwi, SKM., M.Kes.</li> <li class="show">DOI: 10.35473/PJ</li> <li class="show">Akreditasi : Sinta 4</li> <li class="show">Penerbit: Department of Public Health, Universitas Ngudi Waluyo</li> </ol> </div> <p>Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan adalah adalah jurnal peer-review yang diterbitkan oleh program studi kesehatan masyarakat Universitas Ngudi Waluyo. jurnal ini dapat diguanakan sebagai sarana atau media untuk mengkomunikasikan hasil penelitian yang berkaitan dengan Kesehatan Masyarakat, yang bertujuan memberi manfaat bagi manajer, pengambil keputusan, petugas kesehatan masyarakat, praktisi masalah kesehatan, dosen, serta siswa. Isi jurnal ini mencakup tinjauan literatur, artikel berbasis penelitian yang berhubungan dengan kebijakan dan administrasi kesehatan, kesehatan lingkungan, kesehatan dan keselamatan kerja, nutrisi kesehatan masyarakat, promosi kesehatan, epidemiologi, biostatistik, ilmu perilaku, kesehatan ibu dan anak, enttolmologi dan hal lain yang terkait dengan tantangan kesehatan masyarakat.</p> </div> </div>en-US<p>As part of the submission process, authors are required to check off their submission's compliance with all of the following items, and submissions may be returned to authors that do not adhere to these guidelines.</p><ol start="1"><li>The submission file is in OpenOffice, Microsoft Word, RTF, or WordPerfect document file format.</li><li>Below the abstract, about three to five keywords should appear together with the main body of the article with the font size 11.</li><li>Institutional affiliations, and the email address of the corresponding author should appear only on a detachable cover sheet.</li><li>If submitting to a peer-reviewed section of the journal, the instructions in Ensuring a Blind Review have been followed.</li><li>Citation is done using bracket (last name and year of publication). When the sources are cited verbatim, page number is included (p. 78 or pp. 78-89).</li></ol>[email protected] (Kartika Dian Pertiwi)[email protected] (Eko Nur Hermansyah)Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0000OJS 3.3.0.22http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss60Strategi Kebijakan Internal dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit: Systematic Literatur Review
https://jurnal.unw.ac.id/index.php/PJ/article/view/4781
<p><strong>ABSTRAK </strong></p> <p>Pelaksanaan pelayanan yang bermutu menjadi indikator keberhasilan rumah sakit dalam menjamin bahwa pelayanan kesehatan berjalan dengan adil, efektif, efisien serta berorientasi kepada kepuasan pasien. Pentingya penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang berbasis mutu menjadi tuntutan bagi pelayanan kesehatan. Untuk mencapai mutu pelayanan kesehatan yang baik, pentingnya untuk menyusun strategi kebijakan internal rumah sakit guna mencapai sasaran mutu pelayanan pasien. Penelitian ini disusun dan difokuskan dalam Upaya mendapatkan strategi kebijakan internal yang memiliki pengaruh penting dalam pelaksanaan mutu pelayanan kesehatan. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Tahapan dalam penelitian ini yaitu merumuskan masalah penelitian, menelusuri literatur, menilai kualitas penelitian, menggabungkan hasil dan meletakkan temuan dalam konteks. Penelitian ini menggunakan kerangka PICO (Population, Intervention, Comparison, Outcome). Artikel yang dipilih dalam rentang waktu tahun 2021 hingga tahun 2025. Proses pencarian data dilakukan melalui beberapa basis data terindeks, yaitu Google Scholar, PubMed dan Science Direct. Seluruh proses ini kemudian sajikan menggunakan alur Diagram PRISMA Flow. Hasil penelitian didapatkan 16 Artikel yang dilakukan analisis. Hasil analisis menunjukkan bahwa pelaksanaan<em> patient safety</em> yang sesuai standart, pelaksanaan akreditasi pada pelayanan Kesehatan dan penerapan Rekam Medis Elektronik berpengaruh terhadap mutu pelayanan kesehatan di RS. Kesimpulan dari penelitian ini adalah strategi Kebijakan Internal yang dapat diimplementasikan dalam Upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan dibagi menjadi tiga aspek ( <em>patient safety</em>, akreditasi dan Rekam Medik Elektronik). Ketiga aspek hasil penelitian ini relevan sebagai dasar perumusan kebijakan internal rumah sakit dalam peningkatan mutu pelayanan melalui penguatan patient safety, pemenuhan standar akreditasi, dan optimalisasi penerapan rekam medis elektronik.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> Mutu, Pelayanan Kesehatan, Rumah Sakit<br /><br /></p> <p><strong><em>ABSTRACT </em></strong></p> <p><em>The implementation of quality services is an indicator of a hospital's success in ensuring that healthcare services are delivered fairly, effectively, efficiently, and with a focus on patient satisfaction. The importance of providing quality-based healthcare services has become a demand for health services. To achieve good quality in healthcare services, it is crucial to develop internal policy strategies within the hospital aimed at meeting the quality objectives for patient care. This research is organized and focused on efforts to obtain internal policy strategies that significantly influence the implementation of quality healthcare services. The research method employs a Systematic Literature Review (SLR) approach. The stages of this research include formulating, searching the literature, assessing the quality of research, combining results, and placing findings in context. This study uses PICO framework (Population, Intervention, Comparison, Outcome). The selected articles span the years 2021 to 2025. The data search process is conducted through several indexed databases, namely Google Scholar, PubMed, and Science Direct. The entire process is then presented using a PRISMA Flow Diagram. The research identified 16 articles for analysis. The results of the analysis indicate that the implementation of patient safety that meets standards, the implementation of accreditation in health services, and the application of Electronic Medical Records influence the quality of healthcare services in hospitals. The conclusion of this research is that internal policy strategies that can be implemented to improve the quality of healthcare services are divided into three aspects ( patient safety, accreditation, and Electronic Medical Records). The findings provide empirical support for hospital management in formulating internal policies aimed at enhancing service quality through strengthening patient safety practices, meeting accreditation standards, and optimizing the use of electronic medical records.</em></p> <p> </p> <p><strong><em>Keywords</em></strong><em>: Quality, Healthcare, Hospital </em></p>Nurul Dwi Andriani, Rezyana Budi Syahputri, Nisa Nur Kusuma, I Gusti Agung Ngurah Putra Pradnyantara
Copyright (c) 2026 Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0
https://jurnal.unw.ac.id/index.php/PJ/article/view/4781Fri, 30 Jan 2026 00:00:00 +0000Peningkatan Pengetahuan Anemia pada Remaja Putri melalui Intervensi Video Animasi
https://jurnal.unw.ac.id/index.php/PJ/article/view/4066
<p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Latar Belakang Anemia defisiensi besi merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dialami remaja putri. Edukasi yang efektif diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan dan mendorong perilaku pencegahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi dengan media video animasi terhadap pengetahuan anemia pada remaja putri. Metode penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan metode penelitian pendekatan <em>Quasi-Experimental Desaign</em> dengan rancangan <em>One Group</em> <em>Pre</em> <em>Test</em> dan <em>Post Test</em>. Populasi dalam penelitian ini adalah 188 remaja putri. Sampel penelitian sebanyak 65 responden. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon. Berdasarkan rentang umur, mayoritas direntang usia 12-14 tahun berjumlah 24 orang (12,3%). Berdasarkan data menarche mayoritas berada di umur 12 tahun dengan jumlah 23 orang (35,4%). Berdasarkan data lama menstruasi mayoritas direntang 7 hari berjumlah 32 orang (49,2%). Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh antara media video animasi terhadap pengetahuan anemia menggunakan uji Wilcoxon memiliki p-value yaitu 0,000<strong>. </strong>Kesimpulan pada penelitian ini terdapat pengaruh yang signifikan antara media video animasi terhadap pengetahuan anemia pada remaja putri di Desa Pamijen.</p> <p> </p> <p><strong>Kata kunci:</strong> Video Animasi, Pengetahuan Remaja Putri, Anemia pada Remaja Putri<br /><br /></p> <p><strong><em>ABSTRACT </em></strong></p> <p><em>Adolescence is the period between childhood and adulthood, typically between the ages of 10 and 19. Physical and psychological changes mark this transitional phase. Various health issues emerge during adolescence, one of which is anemia. To determine the effect of education using animated video media on anemia knowledge in adolescent girls in Pamijen Village</em><em>.</em><em>This quantitative study used a Quasi-Experimental Design with a One Group Pre-Test and Post-Test approach. The population in this study consisted of 188 adolescent girls, with a sample size of 65 respondents. Data analysis was conducted using the Wilcoxon test.</em> <em>Based on age range, most participants were 12-14 years old, totaling 24 individuals (12.3%). Most participants experienced menarche at 12, with 23 individuals (35.4%). Most participants had a menstruation duration of 7 days, totaling 32 individuals (49.2%). The study showed a significant effect of animated video media on anemia knowledge, with a Wilcoxon test p-value of 0.000 (p 0.05). Therefore, it can be concluded that the hypothesis is accepted, indicating that animated video media significantly impacts anemia knowledge in adolescent girls</em><em>. </em><em>There is a significant effect of animated video media on anemia knowledge in adolescent girls in Pamijen Village</em><em>. Keywords: Animated Video, Adolescent Girls' Knowledge, Adolescent Anemia</em><em>. </em></p> <p> </p> <p><strong><em>Keywords</em></strong><em>: Animated Video, Adolescent Girls' Knowledge, Adolescent Anemia</em></p>Krislinggardini krislinggardini, Dhea Rizki Amalia
Copyright (c) 2026 Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0
https://jurnal.unw.ac.id/index.php/PJ/article/view/4066Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0000Implementasi Program Makan Bergizi Gratis di Sekolah: Tinjauan Literature terhadap Tantangan Tata Kelola dan Implikasi Kebijakan
https://jurnal.unw.ac.id/index.php/PJ/article/view/4731
<p><strong>Latar belakang : </strong>Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan kebijakan priorita snasional yang diinisiasi pasangan Prabowo–Gibran dengan alokasi anggaran tahun 2025 sebesar Rp71 triliun. Program ini ditujukan bagi siswa prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah, hingga pesantren, dengan tujuan meningkatkan status gizi sekaligus mendukung kualitas sumber daya manusia. Artikel ini bertujuan menelaah implementasi MBG di sekolah melalui metode literature review. <strong>Metode : </strong>Pencarian artikel dilakukan di Google Scholar dengan kata kunci “makan bergizi gratis”, “sekolah”, dan “status gizi”. Dari 2980 artikel yang ditemukan, diseleksi berdasarkan tahun terbit (2024–2025), sehingga tersisa 1770 artikel. Setelah melalui proses inklusi dan eksklusi, lima artikel dipilih sebagai sumber utama. <strong>Hasil : </strong>Hasil telaah menunjukkan bahwa siswa sekolah dasar dan menengah merupakan sasaran utama yang tepat karena kerentanannya terhadap masalah gizi. Implementasi MBG mencakup kebijakan, distribusi, dan penyusunan menu bergizi, namun masih menghadapi kendala berupa keterbatasan infrastruktur di daerah 3T, standar menu yang belum seragam, serta koordinasi antar sektor. Meski demikian, MBG terbukti berdampak positif terhadap peningkatan status gizi, konsentrasi belajar, kehadiran sekolah, serta mendapat penerimaan baik dari masyarakat. <strong>Simpulan: </strong>Secara keseluruhan, MBG berpotensi menjadi strategi nasional penting di bidang pendidikan dan kesehatan, dengan catatan tata kelola, monitoring, dan dukungan anggaran berkelanjutan perlu terus diperkuat.</p>Rela Hastuti, Agustin Mahardika Hariyadi, Hariyadi
Copyright (c) 2026 Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0
https://jurnal.unw.ac.id/index.php/PJ/article/view/4731Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0000Analisis Faktor Demografi, Medis, dan Gaya Hidup terhadap Kejadian Diabetes Mellitus Tipe 2 pada Lansia: Studi Cross-sectional di Posyandu Lansia Ngudi Waras Pudakpayung Banyumanik
https://jurnal.unw.ac.id/index.php/PJ/article/view/4626
<p><strong>ABSTRAK </strong></p> <p>Diabetes melitus tipe 2 (DM tipe 2) merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan prevalensi tinggi di dunia dan menjadi masalah kesehatan utama pada kelompok lansia. Kota Semarang mencatat jumlah kasus DM tipe 2 tertinggi di Jawa Tengah, dengan peningkatan kasus hingga tingkat pelayanan primer. Puskesmas Pudakpayung, yang mencakup wilayah Posyandu Lansia Ngudi Waras Banyumanik, melaporkan 501 kasus DM tipe 2 pada tahun 2022. Penelitian ini merupakan studi analitik observasional kuantitatif dengan desain <em>cross-sectional</em>. Populasi penelitian adalah seluruh lansia yang terdaftar di Posyandu Lansia Ngudi Waras tahun 2024 (N=100). Sampel sebanyak 62 lansia dipilih menggunakan <em>purposive sampling</em> berdasarkan kesediaan mengikuti pemeriksaan gula darah acak . Data dianalisis secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji Chi-Square . Aktivitas fisik menunjukkan hubungan signifikan dengan kejadian DM tipe 2 pada lansia (p<0,05), di mana lansia dengan aktivitas fisik rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami DM tipe 2. Pola makan tidak berhubungan signifikan dengan DM tipe 2 (p>0,05). Faktor medis seperti riwayat keluarga (p=0,263) , obesitas (p=0,905), dan hipertensi (p=0,264) tidak menunjukkan hubungan bermakna. Faktor demografis usia (p=0,805), jenis kelamin (p=0,907), dan status pekerjaan juga tidak berhubungan signifikan, meskipun terdapat kecenderungan prevalensi lebih tinggi pada lansia dengan tingkat pendidikan rendah. Aktivitas fisik merupakan faktor dominan yang berpengaruh terhadap kejadian diabetes tipe 2 pada lansia. Intervensi promotif–preventif di Posyandu Lansia perlu difokuskan pada peningkatan aktivitas fisik terstruktur sebagai strategi utama pencegahan DM Tipe 2</p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong> <em>Aktivitas Fisik ,</em> <em>Lansia,</em> <em>Faktor Risiko Metabolik,</em> <em>Diabetes Tipe 2<br /><br /></em></p> <p><strong><em>ABSTRACT </em></strong></p> <p><em>Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is a non-communicable disease with a high global prevalence and is a major health concern among the elderly. Semarang City has recorded the highest number of T2DM cases in Central Java, with an increasing trend reaching primary healthcare levels. Pudakpayung Health Center, which oversees the Ngudi Waras Elderly Integrated Health Post (Posyandu Lansia) in Banyumanik, reported 501 cases of T2DM in 2022. This study is a quantitative observational analytical study using a cross-sectional design. The population consisted of all elderly individuals registered at the Ngudi Waras Elderly Posyandu in 2024 ($N=100$). A sample of 62 elderly participants was selected using purposive sampling based on their willingness to undergo random blood glucose testing. Data were analyzed descriptively and inferentially using the Chi-Square test. Physical activity showed a significant correlation with the incidence of T2DM in the elderly ($p < 0.05$), where those with low physical activity levels had a higher risk of developing T2DM. Dietary patterns did not show a significant correlation with T2DM ($p > 0.05$). Medical factors such as family history ($p = 0.263$), obesity ($p = 0.905$), and hypertension ($p = 0.264$) did not show significant associations. Demographic factors including age ($p = 0.805$), gender ($p = 0.907$), and occupational status were also not significantly related, although there was a trend of higher prevalence among those with lower educational levels. Physical activity is the dominant factor influencing the incidence of T2DM in the elderly. Promotive and preventive interventions at the Elderly Posyandu should focus on increasing structured physical activity as a primary strategy for preventing Type 2 Diabetes Mellitus.</em></p> <p><strong><em>Keywords</em></strong><em>: Physical Activity, Elderly, Metabolic Risk Factors, Type 2 Diabetes</em></p> <p><em> </em></p>Yuliaji Siswanto, Ita Puji Lestari, Anggi Margaretha, Ferdias Arkhan Setya Ardana, Siti Rodlotul Jannatun Naim
Copyright (c) 2026 Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0
https://jurnal.unw.ac.id/index.php/PJ/article/view/4626Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0000Analisis Hubungan Kebisingan dengan Kelelahan Kerja pada Nelayan di Tambak Lorok Semarang
https://jurnal.unw.ac.id/index.php/PJ/article/view/3992
<p><strong>ABSTRAK </strong></p> <p>Kebisingan yang dihasilkan dalam kegiatan penangkapan ikan berasal dari mesin diesel. Tanpa disadari, mesin yang digunakan merupakan penyumbang kebisingan. Kebisingan menyebabkan masalah kesehatan seperti gangguan pendengaran, peningkatan tekanan darah, dan kelelahan kerja. Kelelahan kerja dapat meningkatkan risiko menurunnya produktivitas dan kecelakaan kerja. Di mana 414 pekerja mengalami kecelakaan kerja karena kelelahan kerja tinggi (Kemenakertrans,2021). Penelitian bertujuan untuk mengetahui analisis hubungan kebisingan dengan kelelahan kerja pada nelayan di Tambak Lorok, Semarang. Desain penelitian adalah kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian adalah nelayan di Tambak Lorok yang diambil menggunakan teknik quota sampling dan diperoleh 88 nelayan. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner <em>Subjective Self Rating Test </em>dari <em>Industrial Fatigue Research Committee (IFRC</em>) untuk mengukur kelelahan kerja dan <em>Sound Level Meter </em>untuk mengukur kebisingan. Analisis data yang digunakan yaitu analisis bivariat dengan uji korelasi Pearson untuk mengetahui hubungan variabel bebas dan terikat. Hasil penelitian didapatkan distribusi kebisingan dengan kelelahan kerja. Didapati terdapat 11 orang atau 20.4% responden memiliki kebisingan tinggi dengan kelelahan kerja rendah, 37 orang atau 66.5% responden memiliki kebisingan tinggi dengan kelelahan kerja sedang, 6 orang atau 11.1% responden memiliki kebisingan tinggi dengan kelelahan kerja tinggi. Hasil penelitian nilai p-value yaitu 0,002 yang menunjukkan nilai p-value < 0,05 sehingga terdapat hubungan antara kebisingan dengan kelelahan kerja. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara kebisingan dan kelelahan kerja pada nelayan di Tambak Lorok, Semarang. Sebagian besar responden memiliki kebisingan tinggi dengan kelelahan kerja sedang.</p> <p> </p> <p><strong>Kata kunci:</strong> Kebisingan, Kelelahan Kerja, Nelayan.</p> <p><strong><em>ABSTRACT </em></strong></p> <p><em>The noise produced in fishing activities comes from diesel engines without realizing that the engine used is a contributor to noise. Noise causes health problems such as hearing loss, increased blood pressure, and work fatigue. Work fatigue can increase the risk of decreased productivity and work accidents. Where 414 workers experienced work accidents due to high work fatigue (Ministry of Manpower and Transmigration, 2021). The study aims to determine the analysis of the relationship between noise and work fatigue in fishermen in Tambak Lorok Semarang. The research design is quantitative with a cross sectional approach. The research sample was fishermen in Tambak Lorok which was taken using the quota sampling technique and obtained from 88 fishermen. The instruments used were in the form of a Subjective Self Rating Test questionnaire from the Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) to measure work fatigue and a Sound Level Meter to measure noise. The data analysis used was bivariate analysis with a Pearson correlation test to determine the relationship between free and bound variables. The results of the study showed that there were 11 people or 20.4% of respondents who had high noise with low work fatigue, 37 people or 66.5% of respondents who had high noise with moderate work fatigue, 6 people or 11.1% of respondents who had high noise with high work fatigue. The results of the study showed a p-value of 0.002 which showed a p-value of <0.05 so that there was a relationship between noise and work fatigue. The conclusion of this study is that there is a relationship between noise and work fatigue in fishermen in Tambak Lorok, Semarang. Most of the respondents had high noise with moderate work fatigue.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong><em>Keywords</em></strong><em>: </em><em>Noise, Work Fatigue, Fisherman. </em></p>Annisa Aulia, Kartika Pertiwi, Heri Sugiarto, Sri Lestari
Copyright (c) 2026 Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0
https://jurnal.unw.ac.id/index.php/PJ/article/view/3992Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0000Hubungan Paparan Pestisida dan Risiko Pencemaran Lingkungan Kerja dengan Keluhan Kesehatan pada Teknisi Pengendalian Vektor Sektor Komersial
https://jurnal.unw.ac.id/index.php/PJ/article/view/5008
<p><strong>ABSTRAK </strong></p> <p>Paparan pestisida pada teknisi pengendalian vektor merupakan isu penting dalam kesehatan kerja karena aktivitas aplikasi yang dilakukan secara rutin berpotensi menimbulkan pajanan kimia, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui pencemaran lingkungan kerja. Pajanan yang berulang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada sektor jasa pengendalian hama komersial dengan intensitas kerja lapangan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara paparan pestisida dan risiko pencemaran lingkungan kerja dengan keluhan kesehatan teknisi pengendalian vektor sektor komersial. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Seluruh teknisi aktif dilibatkan sebagai responden (n=33) menggunakan teknik <em>total sampling</em>. Variabel bebas meliputi paparan pestisida dan risiko pencemaran lingkungan kerja, sedangkan variabel terikat adalah keluhan kesehatan. Paparan pestisida diukur berdasarkan frekuensi keterlibatan dalam pencampuran dan penyemprotan, intensitas kontak bahan kimia, serta kondisi lingkungan kerja. Risiko pencemaran dinilai dari potensi kontaminasi akibat aktivitas operasional dan pengelolaan limbah. Keluhan kesehatan diukur berdasarkan gejala yang dirasakan dalam tiga bulan terakhir. Seluruh variabel diukur menggunakan kuesioner skala Likert lima tingkat dan dikategorikan menjadi rendah, sedang, dan tinggi berdasarkan interval skor teoritis. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil menunjukkan paparan pestisida berada pada kategori rendah (24,2%), sedang (45,5%), dan tinggi (30,3%). Risiko pencemaran lingkungan kerja didominasi kategori sedang (45,5%). Keluhan kesehatan mayoritas berada pada kategori rendah (93,9%). Terdapat hubungan signifikan antara paparan pestisida dan keluhan kesehatan (p=0,001; ρ=0,552), sedangkan risiko pencemaran lingkungan kerja tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p=0,872; ρ=0,031).</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> paparan pestisida, pencemaran lingkungan kerja, keluhan kesehatan<br /><br /></p> <p><strong><em>ABSTRACT </em></strong></p> <p><em>Pesticide exposure among vector control technicians is an important occupational health concern, as routine application activities may cause both direct chemical exposure and indirect exposure through workplace environmental contamination. Repeated exposure increases the risk of health problems, particularly in commercial pest control services with high fieldwork intensity. This study aimed to analyze the relationship between pesticide exposure and workplace environmental contamination risk with health complaints among commercial vector control technicians. This study is an analytical observational quantitative study with a cross-sectional design was conducted. All active technicians were included as respondents (n=33) using total sampling. Independent variables consisted of pesticide exposure and workplace environmental contamination risk, while the dependent variable was health complaints. Pesticide exposure was measured based on the frequency of mixing and spraying activities, intensity of chemical contact, and workplace environmental conditions. Workplace contamination risk was assessed based on potential contamination from operational activities and waste management practices. Health complaints were measured based on symptoms experienced within the last three months. All variables were assessed using a five-point Likert-scale questionnaire and categorized into low, moderate, and high levels based on theoretical score intervals. Data were analyzed descriptively and bivariately using Spearman correlation tests.</em></p> <p><em>The results showed pesticide exposure levels of low (24.2%), moderate (45.5%), and high (30.3%). Workplace environmental contamination risk was predominantly moderate (45.5%). Health complaints were mostly low (93.9%). Pesticide exposure was significantly associated with health complaints (p=0.001; ρ=0.552), while workplace contamination risk showed no significant association (p=0.872; ρ=0.031).</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> pesticide exposure, workplace environmental contamination, health complaints</em></p>Bagas Adi Kuncoro, Kartika Dian Pertiwi
Copyright (c) 2026 Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0
https://jurnal.unw.ac.id/index.php/PJ/article/view/5008Wed, 31 Dec 2025 00:00:00 +0000Kepadatan Penghuni Rumah Terhadap Kasus Tuberkulosis di Indonesia: Systematic Literature Review
https://jurnal.unw.ac.id/index.php/PJ/article/view/4744
<p><strong>ABSTRAK </strong></p> <p>Tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu penyakit infeksi paling mematikan di dunia, dengan lebih dari 10 juta orang terdampak setiap tahunnya, dan berdasarkan Laporan Global TBC Tahun 2024, Indonesia menempati posisi kedua dengan kontribusi 10% kasus dunia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kepadatan penghuni rumah dengan kejadian TBC di Indonesia melalui pendekatan tinjauan sistematis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan meninjau artikel-artikel observasional yang menggunakan desain case-control dan cross-sectional, yang dipublikasikan dalam rentang waktu antara tahun 2015 hingga 2025. Artikel-artikel relevan diperoleh dari basis data PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar, dengan kualitas publikasi yang dinilai menggunakan JBI Critical Appraisal Tools. Dari 1.369 artikel yang ditemukan, sebanyak 21 artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis lebih lanjut. Hasil sintesis tematik menunjukkan bahwa dari 21 studi yang dianalisis, sebanyak 14 studi melaporkan hubungan signifikan antara kepadatan hunian dan kejadian tuberkulosis, sedangkan 7 studi tidak menemukan hubungan yang signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa kepadatan hunian merupakan faktor risiko dominan, meskipun dipengaruhi oleh faktor lingkungan lain seperti ventilasi, kelembapan, dan perilaku penghuni. Implikasi kebijakan dari temuan ini adalah perlunya intervensi berbasis lingkungan, termasuk pengaturan standar kepadatan hunian, peningkatan kualitas ventilasi rumah, serta penguatan edukasi masyarakat dalam pencegahan penularan tuberkulosis di lingkungan masyarakat.</p> <p> </p> <p><strong>Kata kunci:</strong> Tuberkulosis, Kepadatan Penghuni Rumah, Indonesia, Tinjauan Sistematis<br /><br /></p> <p><strong><em>ABSTRACT .</em></strong></p> <p>Tuberculosis (TBC) is one of the most lethal infectious diseases globally, with over 10 million people affected each year. According to the 2024 Global Tuberculosis Report, Indonesia ranks second, contributing 10% of global cases. This study aims to analyze the relationship between household crowding and TBC incidence in Indonesia through a Systematic Review approach. The method employed in this study involved reviewing observational articles using case-control and cross-sectional designs published between 2015 and 2025. Relevant articles were sourced from databases such as PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar, with publication quality assessed using the JBI Critical Appraisal Tools. Out of 1.369 articles identified, 21 met the inclusion criteria and were analyzed further. The synthesis results indicate that out of 21 studies analyzed, 14 reported a significant association between household crowding and tuberculosis incidence, while 7 studies found no significant relationship. These findings suggest that household crowding is a dominant risk factor, although it is influenced by other environmental determinants such as ventilation, humidity, and residents’ behavior. The policy implications of these findings highlight the need for environment-based interventions, including the regulation of housing density standards, improvement of household ventilation quality, and strengthening community education to prevent the transmission of tuberculosis in community.</p> <p> </p> <p><strong><em>Keywords</em></strong><em>: Tuberculosis, Household Crowding, Indonesia, Systematic Review</em></p> <p><br /><br /></p>Adji Semiardji, Elvi Sunarsih, Hamzah Hasyim
Copyright (c) 2026 Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0
https://jurnal.unw.ac.id/index.php/PJ/article/view/4744Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0000