PELANGGARAN PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA DALAM NASKAH DRAMA DAG DIG DUG KARYA PUTU WIJAYA

Authors

  • NELLA RISQI ROMADHONI Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Semarang
  • SITI FATIMAH Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Semarang
  • ICUK PRAYOGI Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Semarang

DOI:

https://doi.org/10.35473/dwijaloka.v3i3.1915

Abstract

Naskah drama berjudul Dag Dig Dug karya Putu Wijaya karena naskah tersebut merupakan naskah drama realis. Naskah drama realis yaitu suatu naskah yang bertitik tolak dari kenyataan. Bahan ajar yang sesuai untuk kesantunan berbahasa dalam pembelajaran sastra di SMA yaitu terdapat pada KD 3.19 menganalisis isi dan kebahasaan drama yang dibaca atau ditonton. Bahan ajar yang digunakan pada KD 3.19 di SMA kelas XI semester 2 belum maksimal, penelitian ini dapat membantu para pendidik menanamkan kembali kesantunan berbahasa peserta didik. Kesantunan berbahasa yang tekandung dalam naskah drama Dag Dig Dug karya Putu Wijaya dapat dijadikan bahan ajar dalam pembelajaran sasrta di SMA khususnya kelas XI semester 2.Tujuan dari penelitian ini adalahmendapatkan data yang bersifat deskriptif tentang kesantunan berbahasa yang mematuhi dan melanggar pada naskah drama Dag Dig Dug karya Putu Wijayadan untuk mendeskripsikan implikasi kesantunan berbahasa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia di SMA.Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik simak catat. Teknik simak dilakukan dengan menyimak naskah drama dag dig dug. Teknik catat yaitu dilakukan dengan cara mencatat kesantunan berbahasa.Hasil analisis dan pembahasan Kesantunan berbahasa dalam naskah drama dadig dug ada lima yaitu, maksim kebijaksanaan, maksim penerimaan, maksim kemurahan, maksim kerendahan hati, maksim kesetujuan dan maksim simpati.Wujud bahan ajar yang digunakan yaitu buku teks sebagai alternatif pembelajaran di SMA. Buku teks ini terdapat beberapa materi, penugasan dan ulangan.Penelitian selanjutnya dapat menggunakan penelitian langsung sehingga dapat mengetahui keefektifan buku teks sebagai alternatif bahan ajar. Selain itu guru juga perlu mengembangkan kreativitas sehingga penugasan yang dilakukan selama pembelajaran efektif dan efisien.

Kata Kunci: Kesantunan Berbahasa, Drama, Bahan Ajar

Author Biographies

NELLA RISQI ROMADHONI, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Semarang

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

SITI FATIMAH, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Semarang

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

ICUK PRAYOGI, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Semarang

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

References

Arikunto, S. (2000). Manageman Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta

Gunarwan, A. (1994). “Kesantunan

Negatif di Kalangan Dwibahasawan Indonesia Jawa di Jakarta: Kajian Sosiopragmatik†dalam PELLBA 7 (Penyunting Bambang Kaswanti Purwo). Jakarta: Lembaga Bahasa Unika Atama Jaya

Rahardi, K. (2009). Pragmatik

Kesantunan Imperatif Bahasa Indnesia. Jakarta: Erlangga.

Sumardjo, J. & Saini K.M. (1997). Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.

Saryono. (2009). Pengantar Apresiasi Sastra. Malang: Universitas Negeri

Malang.

Sutarjo. I. (1984). Sosiologi Sastra. BPK Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Leech, G. (2011). Prinsip-Prinsip Pragmatik. (edisi terjemahan M.D.D Oka) Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif kualitatif & RND. Bandung: Alfabeta.

Published

2022-09-30

Issue

Section

Articles