Indonesian Journal of Midwifery (IJM)
https://jurnal.unw.ac.id/index.php/ijm
<div class="body"> <div class="description"> <div style="border: 2px #444F71 solid; padding: 3px; background-color: #f0ffff; text-align: left;"> <ol> <li class="show">Nama Jurnal: Indonesian Journal of Midwifery (IJM)</li> <li class="show">Singkatan: IJM</li> <li class="show">Frekuensi: March and September</li> <li class="show">ISSN: Print <a href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&1549449210&1&&" target="_blank" rel="noopener">2656-1506</a> | Online <a href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&1517931515&1&&" target="_blank" rel="noopener">2615-5095</a></li> <li class="show">Editor in Chief:Ida Sofiyanti</li> <li class="show">DOI: 10.35473/IJM</li> <li class="show">Akreditasi : Sinta 4</li> <li class="show">Penerbit: Universitas Ngudi Waluyo Prodi Kebidanan Program Sarjana dan Prodi Pendidikan Profesi Bidan</li> </ol> </div> <p>Indonesian Journal of Midwifery (IJM) is a journal of midwifery published by Department of Midwifery, LPPM Universitas Ngudi Waluyo annually in March and September. IJM welcomes any research-based as well as concept-based manuscripts dealing with its focus and scope</p> </div> </div>Universitas Ngudi waluyoen-USIndonesian Journal of Midwifery (IJM)2656-1506<p>Copyright notice:</p> <ol> <li>Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a <a href="http://creativecommons.org/licenses/by/3.0/" target="_new">Creative Commons Attribution License</a>Â that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.</li> <li>Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.</li> </ol> <p>Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See <a href="http://opcit.eprints.org/oacitation-biblio.html" target="_new">The Effect of Open Access</a>)</p>Perbedaan Tehnik Posisi Miring Kiri dan Penggunaan Birthing Ball Terhadap Kemajuan Persalinan: Studi Quasi Eksperimental
https://jurnal.unw.ac.id/index.php/ijm/article/view/4444
<p><em>The labor process can be long and difficult, resulting in complications for the mother and baby. Management of prolonged labor through medical interventions, both invasive and non-invasive, is carried out to accelerate the progress of labor. One of the non-invasive therapies is the left lateral position and the use of a birthing ball. The purpose of this study was to determine the difference between the lateral position and the use of a birthing ball on the progress of labor at the Tolinggula Community Health Center (UPTD). The research method used was a quasi-experimental design with posttest only and a control group. The number of samples in this study was 30 respondents divided into two groups with 15 samples in research subjects each. The results obtained showed that the average score for the left lateral position was 1.47 (SD = 0.516), while the average score for the birthing ball was 1.13 (SD = 0.352). This indicates that most respondents were in the progress category with a significance (Asymp. Sig. 2 tailed) of 0.059. Because the P value>0.05, it can be concluded that there is no significant difference between the use of a birthing ball and the left lateral position in mothers giving birth. In future research, it is hoped that furture research can be carried out with a larger and sample size and a longer observation time.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak </strong></p> <p>Proses persalinan bisa berlangsung menjadi lama dan sulit yang mengakibatkan komplikasi pada ibu dan bayinya. Penanganan persalinan lama melalui Intervensi medis baik invasive maupun non invasive dilakukan untuk mempercepat kemajuan persalinan. Salah satu terapi non invasive adalah posisi miring kiri dan penggunaan birthing ball. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan antara posisi miring kiri dan penggunaan birthing ball terhadap kemajuan persalinan di UPTD Puskesmas Tolinggula. Metode penelitian yang digunakan yaitu quasi experiment dengan desain posttest only with control group. Jumlah sampel dalam penelitian sebanyak 30 responden yang terbagi menjadi 2 kelompok dengan masing-masing 15 subyek penelitian. Hasil yang diperoleh yaitu menunjukkan bahwa rata-rata skor posisi miring kiri adalah 1.47 (SD = 0.516), sedangkan rata-rata skor birthing ball adalah 1.13 (SD= 0.352). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada dalam kategori terjadi kemajuan dengan signifikansi (Asymp. Sig. 2-tailed) sebesar 0.059. Karena nilai p > 0.05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara penggunaan birthing ball dengan posisi miring kiri pada ibu bersalin. Pada peneliti selanjutnya, diharapkan dapat melakukan penelitian lanjutan dengan jumlah sampel yang lebih besar dan waktu pengamatan yang lebih lama.</p>Vivin Riski PolapaDwi Nur Octaviani KatiliNour Arriza Dwi MelaniJusri Adam
Copyright (c) 2026
2026-03-132026-03-13911910.35473/ijm.v9i1.4444Revitalisasi self-efficacy Remaja SMA melalui Program PRIMA dalam Pendidikan Kesehatan Reproduksi
https://jurnal.unw.ac.id/index.php/ijm/article/view/4834
<p><em>rapid physical, emotional, and social changes. Limited knowledge about reproductive health often leads to risky behaviors such as premarital sex and unintended pregnancy. This condition is further exacerbated by limited communication between parents and adolescents as well as the lack of comprehensive reproductive health education in schools. Consequently, many adolescents have low self-efficacy in making healthy and responsible decisions for themselves. The PRIMA (Independent and Safe Adolescent Reproductive Education) program was designed to improve adolescents’ knowledge, attitudes, and self-efficacy in maintaining reproductive health independently and responsibly. This study aimed to determine the effect of the PRIMA program on the self-efficacy of senior high school students in maintaining reproductive health. This study employed a quasi-experimental design with a pretest-posttest with control group approach. The research sample consisted of 34 respondents divided into intervention and control groups using a purposive sampling technique. The study was conducted at SMA PGRI 1 Temanggung. The intervention group received the PRIMA education through an 8-minute-21-second animated video. Data were analyzed using paired t-test and independent t-test. The paired t-test showed a significant increase in the mean self-efficacy score in the intervention group (p=0.000 < α=0.05), while no significant difference was found in the control group (p=0.237 > α=0.05). The independent t-test revealed a significant difference between the intervention and control groups after the PRIMA intervention (p=0.00 < α=0.05). The PRIMA program significantly improved adolescents’ self-efficacy in maintaining reproductive health.</em></p> <p><em> </em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak </strong></p> <p>Masa remaja merupakan masa transisi yang ditandai dengan perubahan fisik, emosional, dan sosial yang cepat. Kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi sering kali memicu perilaku berisiko seperti seks pranikah, dan kehamilan tidak diinginkan. Kondisi ini semakin diperparah dengan keterbatasan komunikasi antara orang tua dan remaja serta kurangnya pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif di sekolah. Akibatnya, banyak remaja yang memiliki self-efficacy rendah dalam mengambil keputusan sehat dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Program PRIMA (Pendidikan Reproduksi Remaja Mandiri dan Aman) dirancang untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan self-efficacy remaja dalam menjaga kesehatan reproduksi secara mandiri dan bertanggung jawab. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh PRIMA terhadap self-efficacy remaja SMA dalam menjaga kesehatan reproduksi. Penelitian ini menggunakan desain quasi experiment dengan pendekatan pretest-posttest with control group design. Sampel penelitian berjumlah 34 responden yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Penelitian ini dilaksanakan di SMA PGRI 1 Temanggung. Kelompok intervensi mendapatkan perlakuan berupa pendidikan PRIMA melalui video animasi yang berdurasi 8 menit 21 detik. Analisis data dilakukan menggunakan uji paired t-test dan independent t-test. Hasil uji paired t-test menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada nilai rata-rata self-efficacy pada kelompok intervensi setelah diberi perlakuan dengan p-value (0,000) < α (0,05), sedangkan pada kelompok kontrol tidak terdapat perbedaan bermakna dengan p-value (0,237) > α (0,05). Uji independent t-test menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok intervensi dan kontrol setelah diberikan program PRIMA dengan p-value (0,00) < α (0,05). Ada pengaruh PRIMA: Pendidikan Reproduksi Remaja Mandiri dan Aman terhadap self-efficacy pada remaja SMA.</p>Tutik YuliyatiTina Mawardika
Copyright (c) 2026
2026-03-132026-03-1391102010.35473/ijm.v9i1.4834Apakah Tingkat Stres Berhubungan dengan Siklus Menstruasi pada Dewasa Muda
https://jurnal.unw.ac.id/index.php/ijm/article/view/4959
<p><em>Regular menstruation is an important indicator of reproductive health because it reflects the balance of the hormonal system. Stress is one of the determinants that can affect the menstrual cycle. Midwifery students are a vulnerable group to experience stress due to academic demands and clinical practice. This study was conducted using a quantitative method using a cross-sectional approach. The study population consisted of female students of the D3 and S1 Midwifery study programs in the 2023-2025 intake. The study sample consisted of 158 respondents taken using a total sampling technique. Stress levels were measured using the Perceived Stress Scale (PSS-10) questionnaire, while menstrual cycles were categorized as normal and abnormal. Data analysis was performed using the chi-square test. The majority of respondents were in a state of moderate stress levels (80.4%) and had normal menstrual cycles (75.9%). The chi-square test results obtained a p-value of 0.489 (p > 0.05), which means there is no relationship between stress levels and menstrual cycles in midwifery students.. The stress levels experienced by most respondents were still within adaptive limits so they did not have a significant impact on the menstrual cycle. In addition, other factors such as body mass index (BMI), fatigue, lifestyle, and individual coping skills are confounding factors in influencing menstrual regularity. Stress levels are not significantly associated with menstrual regularity in midwifery students and are not the sole factor influencing menstrual regularity.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak </strong></p> <p>Menstruasi yang teratur merupakan indikator penting dalam kesehatan reproduksi karena menggambarkan keseimbangan sistem hormonal. Stres menjadi salah satu determinan yang dapat mempengaruhi siklus menstruasi. Mahasiswa kebidanan menjadi kelompok rentan mengalami stres akibat tuntutan akademik dan praktik klinik. Studi ini dilakukan dengan metode kuantitatif menggunakan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian terdiri dari mahasiswi program studi D3 dan S1 Kebidanan angkatan 2023-2025. Sampel penelitian berjumlah 158 responden yang diambil menggunakan tenik total sampling. Pengukuran tingkat stres dilakukan menggunakan kuesioner Perceived Stress Scale (PSS-10), sedangkan siklus menstruasi dikategorikan menjadi normal dan tidak normal. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square. Mayoritas responden berada dalam kondisi tingkat stres sedang (80,4%) dan memiliki siklus menstruasi normal (75,9%). Hasil uji chi-square diperoleh nilai p-value yaitu 0,489 (p > 0,05), yang artinya tidak terdapat hubungan antara tingkat stres dengan siklus menstruasi pada mahasiswa kebidanan. Tingkat stres yang dialami responden sebagian besar masih berada dalam batas adaptif sehingga belum berdampak signifikan terhadap siklus menstruasi. selain itu, terdapat faktor lain seperti indeks massa tubuh (IMT), kelelahan, pola hidup dan kemampuan coping individu yang menjadi faktor perancu dalam mempengaruhi keteraturan menstruasi. Tingkat stres tidak berhubungan secara signifikan dengan keteraturan menstruasi pada mahasiswa kebidanan dan bukan merupakan satu-satunya faktor yang mempengaruhi keteraturan menstruasi.</p>Ni Kadek Dwi Nanda RestianiNi Nyoman Ayu Desy SekariniPutu Irma Pratiwi
Copyright (c) 2026
2026-03-132026-03-1391212810.35473/ijm.v9i1.4959Hubungan Status Gizi Berdasarkan IMT dan Umur Menarche dengan Kejadian Dismenore pada Mahasiswi Kebidanan Fakultas Kedokteran Undiksha
https://jurnal.unw.ac.id/index.php/ijm/article/view/4966
<p><em>Dysmenorrhea is a common pain complaint experienced during menstruation among women of reproductive age and may affect daily activities, including academic performance among students. Nutritional status and age at menarche are biological factors that are theoretically associated with the occurrence of dysmenorrhea; however, previous studies have reported inconsistent findings. This study aimed to examine the relationship between nutritional status and age at menarche with the occurrence of dysmenorrhea among midwifery students at Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). This study employed a quantitative approach with an analytic cross-sectional design. The study population included all active midwifery students from the 2023, 2024, and 2025 cohorts. A total sampling technique was applied. Of the 177 students in the study population, 159 had complete data and were included in the analysis. Data were collected using a structured questionnaire developed by the researchers according to the study variables, including nutritional status, age at menarche, and dysmenorrhea, and distributed online via Google Forms. Nutritional status was determined based on body mass index (BMI) calculated from self-reported body weight and height. To minimize potential bias, respondents were provided with clear instructions for reporting their most recent measurements, and data screening was conducted to identify implausible values prior to analysis. BMI values were then categorized as underweight, normal, and overweight according to the World Health Organization (WHO) criteria. Data analysis was performed using descriptive statistics for univariate analysis and the Chi-square test for bivariate analysis. The results showed that most respondents experienced dysmenorrhea (68.6%). The majority of respondents had normal nutritional status (54.1%) and experienced menarche within the normal age range (84.9%). The Chi-square test indicated no significant association between nutritional status and dysmenorrhea (p = 0.547). Similarly, age at menarche was not significantly associated with dysmenorrhea (p = 0.931). Based on these findings, it can be concluded that nutritional status and age at menarche are not significantly associated with the occurrence of dysmenorrhea among midwifery students. Reproductive health promotion in educational settings should adopt a more comprehensive approach by addressing not only biological factors but also psychological aspects and healthy lifestyle behaviors. Midwifery students are encouraged to maintain healthy lifestyles, increase physical activity, and manage stress as non-pharmacological strategies to reduce dysmenorrhea. Future studies are recommended to explore other factors potentially associated with dysmenorrhea using broader study designs or multivariate analysis.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak </strong></p> <p>Dismenore merupakan keluhan nyeri yang sering muncul selama menstruasi pada perempuan usia reproduktif dan dapat berdampak pada aktivitas sehari-hari, termasuk kegiatan akademik pada mahasiswa. Status gizi serta umur menarche merupakan faktor biologis yang secara teoritis dikaitkan dengan terjadinya dismenore, meskipun hasil penelitian terdahulu masih memperlihatkan temuan yang beragam. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dan umur menarche dengan kejadian dismenore pada mahasiswi kebidanan undiksha. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan survei analitik melalui desain potong lintang (cross sectional). Populasi penelitian mencakup seluruh mahasiswi jurusan Kebidanan angkatan 2023, 2024, dan 2025 yang berstatus aktif secara akademik. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling. Dari total 177 mahasiswi yang menjadi populasi penelitian, sebanyak 159 mahasiswi memiliki data lengkap dan dianalisis dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur yang disusun oleh peneliti sesuai dengan variabel penelitian, meliputi status gizi, usia menarche, dan kejadian dismenore, yang disebarkan secara daring melalui Google Form. Status gizi ditentukan berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) yang dihitung dari data berat badan dan tinggi badan yang dilaporkan sendiri oleh responden, dengan upaya meminimalkan potensi bias melalui pemberian petunjuk pengisian yang jelas dan pemeriksaan kelogisan data sebelum analisis. Nilai IMT kemudian dikategorikan menjadi status gizi kurus, normal, dan lebih berdasarkan kriteria World Health Organization (WHO). Analisis data dilakukan secara univariat menggunakan statistik deskriptif dan secara bivariat menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa sebagian besar responden mengalami dismenore (68,6%). Mayoritas responden memiliki status gizi normal (54,1%) dan mengalami menarche pada rentang usia normal (84,9%). Hasil uji chi-square tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara status gizi dengan kejadian dismenore (p = 0,547). Demikian pula, umur menarche tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan kejadian dismenore (p = 0,931). Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa status gizi dan umur menarche tidak berkaitan secara signifikan dengan kejadian dismenore pada mahasiswi kebidanan. Promosi kesehatan reproduksi di lingkungan pendidikan perlu diarahkan pada pendekatan yang lebih komprehensif, tidak hanya menekankan faktor biologis tetapi juga faktor psikologis dan gaya hidup sehat. Mahasiswi kebidanan disarankan untuk menerapkan pola hidup sehat, meningkatkan aktivitas fisik, serta mengelola stres sebagai upaya non farmakologis dalam mengurangi keluhan dismenore. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengkaji faktor lain yang berpotensi berhubungan dengan dismenore menggunakan desain penelitian yang lebih luas atau analisis multivariat.</p>Komang Putri Natia SutiartiniNi Nyoman Ayu Desy Sekarini Putu Irma Pratiwi
Copyright (c) 2026
2026-03-132026-03-1391293910.35473/ijm.v9i1.4966Gambaran Status Gizi Balita di Posyandu Desa Selat Kabupaten Buleleng
https://jurnal.unw.ac.id/index.php/ijm/article/view/4962
<p><em>Malnutrition among toddlers remains a major public health concern in Indonesia, marked by the coexistence of undernutrition and overnutrition. This study aimed to describe the nutritional status of toddlers using height-for-age, weight-for-height, and weight-for-age indicators at Integrated Health Posts (Posyandu) in Selat Village, Buleleng Regency . This study applied a descriptive quantitative design with a total sampling approach. All toddlers who attended Posyandu activities and were recorded during the study period were included. A total of 214 toddlers from six Posyandu in Selat Village were analyzed. Secondary data were obtained from routine Posyandu records, including age, sex, body weight, and height. Nutritional status was assessed using the World Health Organization Child Growth Standards, and Z-scores were calculated with WHO Anthro software. Data analysis was conducted univariately and presented in the form of frequency distributions and percentages. The findings showed that most toddlers were in the 24–59 months age group. Based on height-for-age, the majority of toddlers had normal growth status, although cases of stunting and severe stunting were still identified across all Posyandu. Assessment using weight-for-height indicated that most toddlers had normal nutritional status, while undernutrition, overweight, and obesity were also observed. Similarly, weight-for-age analysis revealed that most toddlers had normal body weight, but underweight and risk of overweight conditions remained present. These results indicate a double burden of malnutrition in Selat Village. Strengthening routine growth monitoring, improving the competence of health workers and Posyandu cadres in anthropometric assessment, and enhancing parental nutrition education are essential to prevent and manage nutritional problems among toddlers.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak </strong></p> <p>Masalah gizi pada anak balita masih menjadi isu kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia, ditandai dengan masih ditemukannya kondisi stunting, wasting, underweight, serta overweight. Ketidakseimbangan antara asupan zat gizi dan kebutuhan tubuh pada masa balita dapat berdampak pada hambatan pertumbuhan fisik, gangguan perkembangan kognitif, serta peningkatan risiko kesakitan dan kematian pada usia dini. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan status gizi balita berdasarkan indikator tinggi badan menurut umur (TB/U), berat badan menurut tinggi badan (BB/TB), dan berat badan menurut umur (BB/U) di Posyandu Desa Selat, Kabupaten Buleleng. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik total sampling, yaitu melibatkan seluruh balita yang tercatat dan hadir pada kegiatan posyandu saat penelitian dilaksanakan. Jumlah sampel sebanyak 214 balita yang tersebar di enam posyandu, yaitu Posyandu Dauh Margi Srilestari II, Angsoka I, Melati, Mawar, Teratai, dan Sakura. Data diperoleh dari pencatatan kegiatan posyandu yang meliputi umur, jenis kelamin, berat badan, dan tinggi badan balita. Penilaian status gizi dilakukan menggunakan standar antropometri WHO berdasarkan nilai Z-score. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar balita berada pada kelompok usia 24–59 bulan. Berdasarkan indikator TB/U, mayoritas balita memiliki tinggi badan normal, namun masih ditemukan balita dengan kategori pendek dan sangat pendek di seluruh posyandu. Penilaian status gizi berdasarkan indikator BB/TB menunjukkan bahwa sebagian besar balita berada pada kategori gizi baik, meskipun masih terdapat balita dengan gizi kurang, gizi lebih, dan obesitas. Sementara itu, berdasarkan indikator BB/U, sebagian besar balita memiliki berat badan normal, namun masih dijumpai balita dengan berat badan kurang serta risiko berat badan lebih.</p>Ni Komang Aprilia BadrawatiPutu Irma PratiwiNi Nyoman Ayu Desy Sekarini
Copyright (c) 2026
2026-03-132026-03-1391405010.35473/ijm.v9i1.4962Hubungan Paritas dan Umur Kehamilan Terhadap Kejadian Anemia pada Ibu Hamil
https://jurnal.unw.ac.id/index.php/ijm/article/view/4960
<p><em>Anemia during pregnancy remains a public health problem that carries the risk of increasing maternal and neonatal morbidity, including preterm birth, low birth weight, and other obstetric complications. Parity and gestational age are thought to contribute to the incidence of anemia, but previous studies have shown inconsistent findings. This study aims to analyze the relationship between parity and gestational age with the incidence of anemia in pregnant women. This study used an analytical observational design with a cross-sectional approach and utilized secondary data from the antenatal care (ANC) service register. The study population was all pregnant women registered at the TPMB "PA" in 2025. The sample was determined using a total sampling technique with 124 respondents who met the inclusion criteria. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis. The Chi-Square test was initially applied, and when the assumptions were not met (expected count <5), Fisher’s Exact Test was used with a significance level of p<0.05. The results showed no significant relationship between parity and the incidence of anemia in pregnant women (Fisher’s Exact test, p = 0.457). Similarly, gestational age was not significantly associated with the incidence of anemia (Fisher’s Exact test, p = 0.598). Parity and gestational age were not significantly associated with the incidence of anemia in pregnant women. These findings indicate that anemia in pregnancy is multifactorial and may be influenced by other factors such as nutritional status, adherence to iron tablet consumption, and regular antenatal care (ANC) checkups. Therefore, anemia prevention efforts need to focus on optimizing nutritional needs, adherence to iron supplementation, and improving the quality of antenatal care.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak </strong></p> <p>Anemia selama kehamilan masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang berisiko meningkatkan morbiditas maternal dan neonatal, termasuk persalinan prematur, berat badan lahir rendah, serta komplikasi obstetri lainnya. Paritas dan umur kehamilan diduga berkontribusi terhadap kejadian anemia, namun hasil penelitian sebelumnya menujukkan temuan yang belum konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara paritas dan umur kehamilan dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dan memanfaatkan data sekunder dari register pelayanan antenatal care (ANC). Populasi penelitian adalah seluruh ibu hamil yang tercatat di TPMB “PA” tahun 2025. Sampel ditentukan menggunakan teknik total sampling dengan jumlah responden 124 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Uji Chi Square digunakan pada tahap awal, dan apabila asumsi tidak terpenuhi (frekuensi harapan <5) maka digunakan uji Fisher’s Exact dengan tingkat signifikansi p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara paritas dengan kejadian anemia pada ibu hamil dengan (Fisher’s Exact test, p = 0.457). Demikian pula, umur kehamilan tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian anemia (Fisher’s Exact test, p = 0.598). Paritas dan umur kehamilan tidak berhubungan signifikan dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Temuan ini mengindikasikan bahwa anemia pada kehamilan bersifat multifaktorial dan dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti status gizi, kepatuhan konsumsi tablet Fe, serta keteraturan pemeriksaan ANC. Oleh karena itu, upaya pencegahan anemia perlu difokuskan pada optimalisasi pemenuhan gizi, kepatuhan suplementasi zat besi, dan peningkatan kualitas pelayanan antenatal.</p>Ni Kadek Gina PramitayaniNi Nyoman Ayu Desy SekariniPutu Irma Pratiwi
Copyright (c) 2026
2026-03-132026-03-1391515910.35473/ijm.v9i1.4960Hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Hipertensi pada Ibu Hamil di TPMB “LM” Tahun 2024-2025
https://jurnal.unw.ac.id/index.php/ijm/article/view/4958
<p><em>Hypertensive disorders during pregnancy remain one of the leading obstetric complications contributing significantly to the high Maternal Mortality Rate (MMR). Maternal nutritional status, commonly assessed using Body Mass Index (BMI) measurement, has been recognized as a significant risk factor for the development of hypertension during pregnancy. Monitoring BMI from early pregnancy constitutes an essential component of antenatal care to support early detection and prevention of hypertensive disorders in pregnancy. This research aimed to determine the association between BMI and the incidence of hypertension among pregnant women. A quantitative descriptive study with cross-sectional design was conducted using secondary data obtained from medical records and maternal registers at the Independent Midwife Practice “LM” during the 2024-2025 period. This study sample consisted of 188 pregnant women selected through a total sampling technique based on predefined inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed using univariate and bivariate approaches with the Chi-Square test at a significant level of ≤0,05. The findings indicated that the majority of respondents had a normal BMI (52,1%) and did not experience hypertension (66,5%). Statistical analysis indicated a significant association between BMI and the incidence of hypertension in pregnancy, with p-value of 0,000 (p≤0,05). A higher proportion of hypertension was observed among pregnant women classified as overweight and obese BMI compared to those with underweight or normal BMI. Therefore, optimizing BMI monitoring and nutritional status management from early pregnancy is necessary as part of preventive efforts against hypertension in pregnant women.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak </strong></p> <p>Gangguan hipertensi dalam kehamilan merupakan salah satu komplikasi obstetri yang berkontribusi terhadap tingginya Angka Kematian Ibu (AKI). Status gizi ibu hamil yang dinilai melalui pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT) diketahui berperan besar sebagai faktor risiko terjadinya hipertensi pada ibu hamil. Pemantauan IMT sejak awal kehamilan menjadi komponen penting dalam pelayanan antenatal untuk mendukung upaya deteksi dini dan pencegahan hipertensi dalam kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara IMT dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari rekam medis dan buku register ibu hamil di Tempat Praktik Mandiri Bidan (TPMB) “LM” tahun 2024-2025. Sampel penelitian berjumlah 188 ibu hamil yang ditentukan melalui teknik total sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data dilakukan secara univariat dan secara bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi ≤0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki IMT normal (52,1) dan tidak mengalami hipertensi (66,5%). Uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara IMT dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil dengan p-value 0,000 (p≤0,05). Proporsi kejadian hipertensi lebih tinggi ditemukan pada ibu hamil dengan IMT gemuk dan obesitas dibandingkan dengan ibu hamil dengan IMT kurus atau normal. Sehingga, optimalisasi pemantauan IMT dan pengendalian status gizi sejak awal kehamilan perlu dilakukan sebagai bagian dari upaya pencegahan hipertensi pada ibu hamil.</p>Nyoman Gita Laksmi MaharaniNi Nyoman Ayu Desy SekariniPutu Irma PratiwiLuh Mertasari
Copyright (c) 2026
2026-03-132026-03-1391606810.35473/ijm.v9i1.4958Hubungan Pengetahuan dan Sikap terhadap Perilaku Menstrual Hygiene pada Remaja Putri
https://jurnal.unw.ac.id/index.php/ijm/article/view/4927
<p><em>Menstruation is a physiological process in women representing sexual reproductive maturity. In this cycle, personal hygiene focused on the genitalia (menstrual hygiene) is a crucial aspect. Poor menstrual hygiene can lead to genital tract infections, which may have long-term health impacts such as infertility and decreased quality of life. Lack of understanding regarding menstrual hygiene can also trigger reproductive health issues, including vaginal discharge, reproductive tract infections (RTIs), pelvic inflammatory disease (PID), and the risk of cervical cancer. Menstrual hygiene behavior is influenced by various factors, including individual knowledge and attitudes. Adequate knowledge and a positive attitude are essential foundations for consistent healthy practices. This study aims to determine the relationship between knowledge and attitudes toward menstrual hygiene behavior among female adolescents. This research employed a descriptive-analytic method with a cross-sectional approach. The population consisted of first-year Midwifery Diploma students at Poltekkes Semarang, with a total sample of 118 respondents selected via total sampling. Data were collected using questionnaires distributed via Google Forms and analyzed using the Chi-Square statistical test. The respondents' age range was 17–19 years. Findings showed that 90.7% of respondents had previously received information about menstrual hygiene, with 26.3% obtaining it through social media. Furthermore, 72% of respondents possessed a high level of knowledge, and 57.6% exhibited a positive attitude toward menstrual hygiene. Bivariate analysis yielded a p-value of 0.000 ($p < 0.05$), indicating a significant relationship between knowledge and menstrual hygiene behavior, as well as a significant relationship between attitude and menstrual hygiene behavior among female adolescents. High knowledge of menstrual hygiene is associated with good hygiene behavior, and female adolescents with positive attitudes tend to practice better menstrual hygiene. These findings are expected to serve as a basis for educational institutions and healthcare providers to improve reproductive health, specifically regarding menstrual hygiene practices among adolescents and students.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak </strong></p> <p>Menstruasi merupakan hal fisiologis yang akan dialami oleh perempuan yang merepresentasikan kematangan sistem reproduksi secara seksual. Dalam siklus ini, pemeliharaan kebersihan diri yang berfokus pada organ genetalia ketika menstruasi (menstrual hygiene) menjadi aspek yang sangat krusial. Perilaku menstrual hygiene yang kurang baik dapat menyebabkan infeksi organ genital. Infeksi pada saluran reproduksi dapat memberikan dampak jangka panjang bagi kesehatan, seperti risiko kemandulan yang pada akhirnya dapat menurunkan kualitas hidup seseorang. Kurangnya pemahaman menstrual hygiene juga dapat memunculkan gangguan kesehatan reproduksi seperti keputihan, infeksi saluran reproduksi, penyakit radang panggul dan kemungkinan terjadi kanker leher rahim. Perilaku menstrual hygiene seseorang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya pengetahuan dan sikap individu. Pengetahuan yang memadai mengenai menstruasi dan kebersihan menstruasi menjadi dasar penting dalam membentuk perilaku yang sehat. Selain pengetahuan, sikap juga berperan penting dalam menentukan perilaku menstrual hygiene. Sikap positif terhadap kebersihan menstruasi akan mendorong individu untuk menerapkan praktik menstrual hygiene yang baik secara konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap terhadap perilaku menstrual hygiene pada remaja putri. Metode penelitian dalam penelitian ini menggunakan deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional dengan sampel mahasiswa tingkat satu DIII Kebidanan Semarang Poltekkes Semarang. Pengambilan sampel dengan total sampling sehingga didapatkan sebanyak 118 responden. Pengambilan data menggunakan kuesioner dalam bentuk link google form. Analisis data yang digunakan menggunakan uji statistik chi square. Penelitian ini didapatkan bahwa rentang usia responden 17 tahun – 19 tahun, 90,7% responden sudah pernah mendapatkan informasi mengenai menstrual hygiene dan 26,3% mendapatkan informasi melalui media sosial. Berdasarkan hasil penelitian 72% responden memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi mengenai menstrual hygiene dan 57,6% memiliki sikap yang positif tentang menstrual hygiene. Berdasarkan hasil uji bivariat didapatkan nilai p-value 0,000 (<0.05), sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan terhadap perilaku menstrual hygiene dan terdapat hubungan antara sikap terhadap perilaku menstrual hygiene remaja putri. Pengetahuan menstrual hygiene yang tinggi berhubungan dengan perilaku menstrual hygiene yang baik dan remaja putri dengan kategori sikap positif memiliki perilaku menstrual hygiene yang baik. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi institusi pendidikan dan tenaga kesehatan dalam meningkatkan kesehatan reproduksi, khususnya terkait praktik menstrual hygiene pada remaja dan mahasiswa.</p>Dinar Indri Bakti SalsabilaSyifa Sofia Wibowo
Copyright (c) 2026
2026-03-132026-03-1391697810.35473/ijm.v9i1.4927Hubungan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dengan Asfiksia Neonatorum
https://jurnal.unw.ac.id/index.php/ijm/article/view/4261
<p><em>The Infant Mortality Rate (IMR) in Indonesia increased in 2022, reaching 21,000 deaths. A similar rise was observed in Central Java Province with 4,000 deaths, and in Cilacap Regency with 149 deaths. In 2023, the leading causes of neonatal mortality were asphyxia (1%) and low birth weight (0.7%). Low Birth Weight (LBW) has complex etiologies and is closely associated with the risk of neonatal asphyxia. This study aimed to analyze the correlation between low birth weight and the incidence of neonatal asphyxia. It was a correlational analytic study using a retrospective cohort approach, focusing on past influencing factors (backward-looking). The independent variable was low birth weight (LBW), while the dependent variable was neonatal asphyxia. Data were collected from medical records at RSUD (Regional Public Hospital) Cilacap from May 21 to 24, 2025. The sample consisted of all newborns at RSUD Cilacap in 2024, with a total sampling technique resulting in 1,015 data points. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis with the Spearman rank test. The results revealed a significant correlation between low birth weight and the incidence of neonatal asphyxia at RSUD Cilacap in 2024 (p-value = 0.000). These findings can serve as a reference for strengthening health promotion and prevention strategies to reduce the prevalence of neonatal asphyxia by addressing infant birth weight.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak </strong></p> <p>Angka Kematian Bayi di Indonesia mengalami peningkatan di tahun 2022 sebanyak 21.000 jiwa. Peningkatan AKB juga terjadi di Provinsi Jawa Tengah hingga 4.000 jiwa dam di Kabupaten Cilacap sebanyak 149 jiwa. Penyebab pada masa neonatal pada tahun 2023 tetinggi adalah asfiksia (1%) dan Berat Badan Lahir Rendah (0,7%). BBLR memiliki etiologi yang kompleks dan berhubungan erat dengan risiko asfiksia. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis hubungan berat badan lahir rendah (BBLR) dengan kejadian asfiksia neonatorum. Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik korelasional melalui pendekatan retrospektif kohort studi yang berfokus dengan melihat faktor-faktor yang mempengaruhi di masa lampau (backward looking). Variabel bebas dalam penelitian ini yaituberat badan lahir rendah (BBLR) sedangkan variabel terikat adalah asfiksia neonatorum. Pengambilan data dilakukan pada tanggal 21 – 24 Mei 2025 di RSUD Cilacap dengan melihat rekam medik.Populasi dalam penelitian ini yaitu bayi yang lahir di RSUD Cilacap dan sampel dalam penelitian ini adalah semuabayi baru lahir di RSUD Cilacap tahun 2024 dengan teknik total Sampling sebanyak 1.015 data. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji Spearman rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dengan kejadian asfiksia neonatorum di RSUD Cilacap tahun 2024 (p-value= 0,000). Simpulan dalam penelitian ini dapat sebagai acuan dalam meningkatkan promosi dan pencegahan agar prevalensi asfiksia neonatorum dengan memperhatikan berat badan lahir bayi.</p>Nani ApriyaniAtika Nur Azizah
Copyright (c) 2026 Nani Apriyani, Atika Nur Azizah
2026-03-282026-03-2891798710.35473/ijm.v9i1.4261Booklet 'Mengenal Pcos' Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan dan Motivasi Pemeriksaan Dini Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) pada Wanita Nulipara di Kelurahan Teluk
https://jurnal.unw.ac.id/index.php/ijm/article/view/4986
<p><em>Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) is one of the disorders of the endocrine system, namely due to high androgen levels and causing infertility. Education is provided to increase knowledge optimally so that it can increase the motivation for early examination as an initial step in prevention. One effort that can be made to increase knowledge and motivation is through health education media, one of which is a booklet. To determine the effect of the booklet ‘Understanding PCOS’ on the level of knowledge and motivation to carry out early detection of PCOS in nulliparous women in Teluk Subdistrict. This study is a quantitative study with a pre-experimental one group pre-test post-test design. This study was conducted in Teluk Village, South Purwokerto District. The sampling technique used was total sampling with 40 nulliparous women as respondents in Teluk Village. The data collection instrument used a valid and reliable PCOS knowledge questionnaire and a PCOS early examination motivation questionnaire. The statistical test used in this study was the Wilcoxon Signed Rank Test. This study was conducted in May-June 2025. The results of this study indicate that the level of knowledge before treatment was in the low category (82.5%) and after treatment increased to good (92.5%). The level of motivation for early PCOS examination before treatment was in the medium category (80%) and after treatment increased to high (95%). The booklet media ‘Understanding PCOS’ has an effect on increasing knowledge and motivation for early PCOS examination in nulliparous women in Teluk Subdistrict.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak </strong></p> <p>Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) adalah salah satu kelainan pada sistem endrokrin yaitu karena kadar androgen yang tinggi dan menyebabkan infertilitas. Edukasi diberikan untuk meningkatkan pengetahuan secara optimal sehingga dapat meningkatkan motivasi pemeriksaan dini sebagai langkah awal pencegahan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan motivasi adalah melalui media edukasi kesehatan, salah satunya booklet. Peningkatan pengetahuan dan motivasi dapat dioptimalkan dengan memberikan edukasi dengan media booklet ‘Mengenal PCOS’ Mengetahui pengaruh booklet ‘Mengenal PCOS’ terhadap tingkat pengetahuan dan motivasi melakukan deteksi dini PCOS pada wanita nulipara di Kelurahan Teluk. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatiif dengan desain pre eksperimental one group pretest-posttest design. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Teluk, Kecamatan Purwokerto Selatan pada bulan Mei-Juni 2025. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling dengan jumlah responden 40 wanita nulipara. Instrumen pengambilan data menggunakan kuesioner pengetahuan PCOS dan kuesioner motivasi pemeriksaan dini PCOS yang valid dan reliabel. Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian ini menunjukkan tingkat pengetahuan sebelum perlakuan jumlah kategori kurang (82.5%) setelah diberikan perlakuan mengalami peningkatan menjadi baik (92.5%). Tingkat motivasi pemeriksaan dini PCOS sebelum diberikan perlakuan jumlah kategori sedang (80%) setelah diberikan perlakuan mengalami peningkatan menjadi tinggi (95%). Media booklet ‘Mengenal PCOS’ berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan dan motivasi pemeriksaan dini PCOS pada wanita nulipara di Kelurahan Teluk.</p>Aliya Putri SavinaHappy Dwi AprilinaDevita ElsantiReni Purwo Aniarti
Copyright (c) 2026 Aliya Putri Savina, Happy Dwi Aprilina, Devita Elsanti, Reni Purwo Aniarti
2026-03-282026-03-2891889610.35473/ijm.v9i1.4986Evaluasi Program Pemberian Makanan Tambahan pada Balita Gizi Kurang
https://jurnal.unw.ac.id/index.php/ijm/article/view/4633
<p><em>The government implemented the Supplementary Feeding Programme (PMT) to address the problem of under-five nutrition. The implementation of the PMT programme needs to be evaluated to improve the quality of implementation so as to achieve the set objectives. This study aimed to evaluate the PMT programme made from Local Food Ingredients at Public Health Center Bojong I in Pekalongan district. The research design was qualitative with phenomenological approach in June 2025. The research subjects consisted of main informants, namely the head of the health centre, nutrition officer, MCH coordinator midwife and village midwife. Triangulation informants consisted of health cadres and mothers of under-fives who were malnourished. The sampling technique used convenience sampling. The research instruments were interview guidelines, recording devices and note-taking tools. Data validity used source triangulation. Data analysis was interactive model. Resources in the implementation of the PMT programme at Public Health Center Bojong I involve the head of the public health center, nutrition officers, MCH coordinator midwives and village midwives. Planning includes determining the number of targets, types and ingredients of food, budget and training for village midwives. Implementation of the PMT programme has been carried out in accordance with the technical guidelines, but still faces obstacles. The immediate result of the PMT programme was increase in body weight of undernourished children. The short-term results of the PMT programme was increased knowledge about toddler nutrition and improved skills in feeding malnourished toddlers. The supplementary feeding programme for undernourished children has been running but there are still obstacles. Innovate PMT by involving nutritionists and cadres with attractive local food ingredients that are appealing to toddlers.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak </strong></p> <p>Pemerintah melaksanakan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk mengatasi masalah gizi kurang balita. Pelaksanaan program PMT perlu dilakukan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan sehingga mencapai tujuan yang ditetapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Berbahan Pangan Lokal di Puskesmas Bojong I Kabupaten Pekalongan. Desain penelitian menggunakan kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, penelitian dilakukan pada bulan Juni tahun 2025. Subyek penelitian terdiri dari informan utama yaitu kepala puskesmas, petugas gizi, bidan koordinator KIA dan bidan desa. Informan triangulasi terdiri dari kader kesehatan dan ibu balita yang memiliki gizi kurang. Teknik sampling menggunakan convenience sampling. Instrumen penelitian adalah pedoman wawancara, alat perekam dan alat pencatat. Keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Analisis data yaitu model interaktif. Sumber daya dalam pelaksanaan program PMT di Puskesmas Bojong I melibatkan kepala puskesmas, petugas gizi, bidan koordinator KIA dan bidan desa. Perencanaan meliputi menentukan jumlah sasaran, jenis dan bahan makanan, anggaran dan pelatihan bagi bidan desa. Pelaksanaan program PMT telah dilakukan sesuai dengan juknis, namun masih menghadapi kendala. Hasil langsung yang diperoleh dari program PMT adalah peningkatan berat badan balita gizi kurang. Hasil jangka pendek dari program PMT adalah peningkatan pengetahuan tentang gizi balita dan peningkatan ketrampilan dalam pemberian makanan pada balita gizi kurang. Program pemberian makanan tambahan pada balita gizi kurang sudah berjalan namun masih dijumpai kendala. Melakukan inovasi PMT dengan melibatkan petugas gizi dan kader dengan bahan makanan lokal yang menarik dengan cita rasa yang disukai balita.</p>Ida SofiyantiKholifah
Copyright (c) 2026 Ida Sofiyanti, Kholifah
2026-03-282026-03-28919710910.35473/ijm.v9i1.4633Dukungan Keluarga dan Efikasi Diri pada Ibu Menyusui Yang Bekerja di Wilayah Kerja Puskesmas Ambarawa
https://jurnal.unw.ac.id/index.php/ijm/article/view/4714
<p><em>Exclusive breastfeeding plays a crucial role in improving maternal and infant health and reducing infant mortality. However, the coverage of exclusive breastfeeding in Indonesia remains suboptimal, including in the working area of Ambarawa Public Health Center, which only reaches 52%. Working mothers face challenges such as limited time, inadequate lactation facilities in the workplace, and psychological pressures that may lower self-efficacy. Family support is considered an external factor that enhances maternal self-efficacy, yet previous studies have reported varying findings. Therefore, this study was conducted to examine the relationship between family support and self-efficacy among working breastfeeding mothers. This was a quantitative analytical correlational study with a cross-sectional design involving 86 working breastfeeding mothers selected through total sampling. Standardized Family Support and Breastfeeding Self-Efficacy Scale-Short Form (BSES-SF) questionnaires were used. Data were analyzed using univariate and bivariate methods with Pearson’s correlation test. Most respondents were aged 20–35 years (93%), had a high school education (58.1%), worked as private employees (54.7%), and had two children (54.7%). Family support was categorized as moderate (52.3%), while maternal self-efficacy was also moderate (83.7%). Pearson’s correlation test showed p = 0.000 and r = 0.614, indicating a significant positive relationship between family support and maternal self-efficacy. Family support is significantly associated with the self-efficacy of working breastfeeding mothers. Health professionals, particularly nurses, are recommended to involve families in efforts to improve maternal self-efficacy and the success of exclusive breastfeeding.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak </strong></p> <p>ASI eksklusif berperan penting dalam meningkatkan kesehatan ibu dan bayi serta mengurangi angka kematian bayi. Namun, cakupan ASI eksklusif di Indonesia masih belum optimal, termasuk di wilayah kerja Puskesmas Ambarawa yang hanya mencapai 52%. Ibu menyusui yang bekerja menghadapi hambatan berupa keterbatasan waktu, kurangnya fasilitas laktasi di tempat kerja, serta tekanan psikologis yang dapat menurunkan efikasi diri. Dukungan keluarga menjadi salah satu faktor eksternal yang mendorong peningkatan efikasi diri ibu menyusui, namun hasil penelitian sebelumya menunjukkan temuan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pemelitian ini dilakukan untuk memastikan hubungan antara dukungan keluarga dan efikasi diri pada ibu menyusui yang bekerja. Penelitian kuantitatif analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional pada 86 ibu menyusui yang bekerja, dipilih dengan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner baku Dukungan Keluarga dan Breastfeeding Self-Efficacy Scale-Short Form (BSES-SF). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji korelasi Pearson guna mengetahui hubungan antar variabel. Mayoritas responden berusia 20–35 tahun (93%), berpendidikan SMA/sederajat (58,1%), bekerja sebagai karyawan swasta (54,7%), dan memiliki dua anak (54,7%). Dukungan keluarga yang diterima responden tergolong sedang (52,3%), sedangkan efikasi diri ibu menyusui juga berada pada kategori sedang (83,7%). Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan nilai p = 0,000 dan r = 0,614, yang berarti terdapat hubungan positif signifikan antara dukungan keluarga dengan efikasi diri ibu menyusui. Dukungan keluarga berhubungan signifikan dengan efikasi diri ibu menyusui yang bekerja. Tenaga kesehatan, khususnya perawat, disarankan melibatkan keluarga dalam upaya meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. </p>Melly IrmawatiEko Mardiyaningsih
Copyright (c) 2026 Melly Irmawati, Eko Mardiyaningsih
2026-03-282026-03-289111011710.35473/ijm.v9i1.4714Empowering Mothers: Relatianship of Toddler Mother Class Participation on Maternal Knowledge of Toddler Nutrition in Karangjati Village
https://jurnal.unw.ac.id/index.php/ijm/article/view/4989
<p><em>The issue of toddler nutrition requires special attention based on the results of the 2022 Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI), the prevalence of malnutrition in toddlers in Indonesia increased to 17.1%. Meanwhile, the Semarang Regency Health Office in 2023 the number of toddlers with cases of malnutrition increased to 3,878 toddlers (6.6%). At the Bergas Community Health Center, there were 81 toddlers experiencing malnutrition. From the results of a preliminary study of 5 respondents, 3 mothers who actively participated in the class for mothers of toddlers, 2 mothers were able to explain all indicators of nutritional status. Where 1 other mother who also attended the class did not fully understand the indicators of nutritional status. the aim of the research is to find out Meanwhile, the two mothers who did not attend the class showed varying results, where one of them only knew weight as an indicator and the other actually knew about nutritional status and how to monitor nutritional status. research purposes ti findRelationship Of Toddler Mother Class Participation On Maternal Knowledge Of Toddler Nutrition This study used a correlational analytical design. The population in this study was 582 respondents. The sample in this study was 85 respondents, determined using the Slovin formula approach with a 10% error rate. This determination was carried out to obtain a representative sample of the population. The sampling technique used was accidental sampling, and a questionnaire was used as the data collection tool. The analysis test used the chi-square test. Most respondents were not actively participating in the mother and toddler class, amounting to 43 respondents (50.6%). Most respondents had good knowledge, amounting to 54 respondents (63.5%). The results of the chi-square test with a degree of error of α = 0.05 obtained a p-value of 0.000 <α = 0.05. Conclusion: There is a relationship between mothers' participation in toddler mother classes and knowledge about toddler nutrition</em></p>Nadia OktavianaVistra VeftisiaYulia Nur Khayati
Copyright (c) 2026 Nadia Oktaviana, Vistra Veftisia, Yulia Nur Khayati
2026-03-282026-03-289111812710.35473/ijm.v9i1.4989The Relationship Between Knowledge and Compliance in Consuming Iron (Fe) Tablets with The Incidence of Anemia Among Female Adolescents at SMA N 1 Suruh
https://jurnal.unw.ac.id/index.php/ijm/article/view/4592
<p><em>Anemia remains a significant health problem among adolescent girls, primarily due to low hemoglobin levels. Although the prevalence has declined in recent years, it is still considered relatively high according to global health standards. In several regions, from provincial to local levels, the proportion of adolescent girls affected by anemia remains substantial. In some primary healthcare service areas, the prevalence has even shown an increasing trend. One of the key contributing factors is the low level of knowledge and adherence among adolescents in consuming iron (Fe) supplements. Despite the increasing national coverage of iron tablet distribution, the proportion of adolescents who consume the recommended amount remains very low. Common reasons for non-compliance include discomfort after consumption, forgetfulness, lack of perceived benefits, and concerns about side effects. Iron supplementation programs have long been implemented as a government intervention to prevent anemia. However, their effectiveness largely depends on the behavior, awareness, and consistency of adolescents in taking the supplements regularly. = This study aims to determine the relationship between knowledge and compliance in consuming Fe tablets with the incidence of anemia among female adolescents at SMA N 1 Suruh. Research. This study used a descriptive correlational design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 89 female students in grade XI at SMA N 1 Suruh who had undergone anemia screening. Sampling was conducted using purposive sampling. Data were collected through questionnaires to assess knowledge and compliance levels, and secondary hemoglobin data from Suruh Public Health Center. Data were analyzed using the Chi-Square test with a significance level of 0.05. The results showed that most respondents had low knowledge and low compliance in consuming Fe tablets. There was a significant relationship between knowledge and the incidence of anemia (p-value = 0.022, OR = 0.301), and between compliance in consuming Fe tablets and the incidence of anemia (p-value = 0.045, OR = 2.764). There is a significant relationship between the level of knowledge and compliance in consuming Fe tablets with the incidence of anemia among female adolescents. Strengthening education and consistent monitoring of Fe tablet consumption are essential to reduce anemia rates in this population.</em></p>Daimatus SholikhahRisma Aliviani Putri
Copyright (c) 2026 Daimatus Sholikhah, Risma Aliviani Putri
2026-03-282026-03-289112813810.35473/ijm.v9i1.4592