https://jurnal.unw.ac.id/index.php/ijnr/issue/feedIndonesian Journal of Nursing Research (IJNR)2026-10-23T14:09:47+00:00Dr. Eko Mardiyaningsih, M.Kep., Ns., Sp.Kep.Mat.[email protected]Open Journal Systems<div class="body"> <div class="description"> <div style="border: 2px #444F71 solid; padding: 3px; background-color: #f0ffff; text-align: left;"> <ol> <li class="show">Nama Jurnal: Indonesian Journal of Nursing Research (IJNR)</li> <li class="show">Singkatan: IJNR</li> <li class="show">Frekuensi: Mei & November</li> <li class="show">ISSN: Print 2656-9590 | Online 2615-6407</li> <li class="show">Editor in Chief: Dr. Eko Mardiyaningsih, S.Kep., Ns., M.Kep.,Sp.Kep.Mat.</li> <li class="show">DOI: 10.35473/IJNR</li> <li class="show">Akreditasi : Sinta 5</li> <li class="show">Penerbit: Program Study of Nursing, Universitas Ngudi Waluyo, Indonesia</li> </ol> </div> <p>Indonesian Journal of Nursing Research (IJNR) is a journal of nursing published by Faculty of Nursing, Universitas Ngudi Waluyo, annually in May and November. IJNR welcomes any research-based as well as concept-based manuscripts dealing with its focus and scope</p> </div> </div>https://jurnal.unw.ac.id/index.php/ijnr/article/view/4607Di Luar Masa Kehamilan: Menerapkan Hierarki Pengendalian Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) untuk Melindungi Karyawan yang Menyusui di Tempat Kerja2025-11-11T05:50:46+00:00Nurul Akma Jamil[email protected]Fariduddin Pauzee[email protected]Tan Woei Ling[email protected]<p><em>Breastfeeding promotion efforts have traditionally focused on pregnancy, childbirth, and the immediate postpartum period through initiatives such as antenatal education, maternity services, and the Baby-Friendly Hospital Initiative (BFHI). However, many mothers encounter challenges in sustaining breastfeeding after returning to work, where organisational, environmental, and cultural barriers may contribute to early breastfeeding cessation. Despite growing recognition of workplace breastfeeding support, existing interventions are often implemented in isolation and lack a systematic framework for prioritisation and integration. This paper presents a nursing perspective on extending breastfeeding support beyond healthcare settings by proposing a conceptual workplace breastfeeding support framework informed by Total Worker Health (TWH) principles and operationalised through a reinterpretation of the Occupational Health and Safety (OHS) Hierarchy of Controls. Rather than conceptualising breastfeeding as an occupational hazard, the framework applies the hierarchy as an intervention prioritisation tool for addressing workplace barriers that hinder breastfeeding continuation among employed mothers. The proposed outcomes include breastfeeding continuation, maternal well-being, infant health, employee retention, and gender equity. By integrating maternal-child health and occupational health perspectives, the framework highlights the shared responsibilities of employers, occupational health practitioners, nurses, and policymakers in supporting breastfeeding employees. Extending breastfeeding support into workplace settings may contribute to healthier families, improved workforce sustainability, and more equitable employment practices.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Promosi pemberian ASI secara tradisional berfokus pada kehamilan, persalinan, dan periode pascapersalinan melalui inisiatif seperti pendidikan antenatal, layanan persalinan, dan Inisiatif Rumah Sakit Ramah Bayi (BFHI). Namun, banyak ibu menghadapi tantangan dalam mempertahankan pemberian ASI setelah kembali bekerja, di mana hambatan organisasi, lingkungan, dan budaya dapat berkontribusi pada penghentian pemberian ASI dini. Meskipun bukti terhadap dukungan pemberian ASI di tempat kerja semakin meningkat, intervensi yang ada sering kali diimplementasikan secara terpisah dan kurang memiliki kerangka kerja sistematis untuk prioritas dan integrasi. Makalah ini menyajikan perspektif keperawatan tentang perluasan dukungan pemberian ASI di luar lingkungan perawatan kesehatan dengan mengusulkan kerangka kerja konseptual dukungan pemberian ASI di tempat kerja yang didasarkan pada prinsip-prinsip Kesehatan Pekerja Total (TWH) dan dioperasionalkan melalui reinterpretasi Hierarki Pengendalian Kesehatan dan Keselamatan Kerja (OHS). Kerangka kerja ini menerapkan hierarki tersebut sebagai alat prioritas intervensi untuk mengatasi hambatan di tempat kerja yang menghambat keberlanjutan pemberian ASI di kalangan ibu yang bekerja. Hasil yang diusulkan meliputi keberlanjutan pemberian ASI, kesejahteraan ibu, kesehatan bayi, retensi karyawan, dan kesetaraan gender. Dengan mengintegrasikan perspektif kesehatan ibu dan anak serta kesehatan kerja, kerangka kerja ini menyoroti tanggung jawab bersama dari pemberi kerja, praktisi kesehatan kerja, perawat, dan pembuat kebijakan dalam mendukung karyawan yang menyusui. Memperluas dukungan menyusui ke lingkungan kerja dapat berkontribusi pada keluarga yang lebih sehat, peningkatan keberlanjutan tenaga kerja, dan praktik ketenagakerjaan yang lebih adil.</p>2026-10-23T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://jurnal.unw.ac.id/index.php/ijnr/article/view/5007Potret Literasi Kesehatan Reproduksi pada Remaja2026-03-10T06:33:41+00:00Syifa Dwi Sabrina[email protected]Tina Mawardika[email protected]<p><em>Adolescents undergo significant physical, psychological, and social changes, including the maturation of reproductive organs. However, these changes are often not accompanied by adequate knowledge of reproductive health. Low reproductive health literacy may increase the risk of engaging in risky sexual behaviors, unintended pregnancies, and sexually transmitted infections. This study aimed to describe reproductive health literacy among vocational high school students based on age, gender, and sources of information. This study employed a descriptive quantitative design with a cross-sectional approach. The study population consisted of 1,025 active students at SMK 17 Parakan Temanggung. A total of 288 respondents were selected using the Slovin formula and purposive sampling technique. Data were collected using the Reproductive Health Literacy Questionnaire (RHL-Q), consisting of 25 items. Data were analyzed using univariate analysis to determine frequency distributions and percentages. The results showed that 168 students (58.33%) had a good level of reproductive health literacy, while the remaining respondents were categorized as having moderate or low literacy levels. These findings indicate that most students have a relatively good ability to access, understand, evaluate, and apply reproductive health information. In conclusion, the majority of vocational high school students demonstrated a good level of reproductive health literacy. Nevertheless, continuous efforts to strengthen reproductive health education through schools, healthcare professionals, and family support are necessary to enhance adolescents’ ability to make informed reproductive health decisions and to support effective health promotion initiatives.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Remaja merupakan kelompok usia yang mengalami perubahan fisik, psikologis, dan sosial, termasuk kematangan organ reproduksi. Namun, perubahan tersebut sering kali tidak diimbangi dengan pemahaman yang memadai mengenai kesehatan reproduksi. Rendahnya literasi kesehatan reproduksi dapat meningkatkan risiko perilaku seksual berisiko, kehamilan tidak diinginkan, dan infeksi menular seksual. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan literasi kesehatan reproduksi pada siswa SMK berdasarkan usia, jenis kelamin, dan sumber informasi. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 1.025 siswa aktif di SMK 17 Parakan Temanggung. Sampel sebanyak 288 responden ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Reproductive Health Literacy Questionnaire (RHL-Q) yang terdiri atas 25 item. Analisis data dilakukan secara univariat untuk memperoleh distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 168 siswa (58,33%) memiliki tingkat literasi kesehatan reproduksi kategori baik, sedangkan sisanya berada pada kategori sedang dan kurang. Temuan ini mengindikasikan bahwa sebagian besar siswa telah memiliki kemampuan yang cukup baik dalam mengakses, memahami, menilai, dan menggunakan informasi terkait kesehatan reproduksi. Disimpulkan bahwa mayoritas siswa SMK memiliki literasi kesehatan reproduksi yang baik. Meskipun demikian, penguatan edukasi kesehatan reproduksi secara berkelanjutan tetap diperlukan melalui peran sekolah, tenaga kesehatan, dan keluarga guna meningkatkan kemampuan remaja dalam mengambil keputusan yang tepat terkait kesehatan reproduksi serta mendukung upaya promosi kesehatan yang optimal.</p>2026-10-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://jurnal.unw.ac.id/index.php/ijnr/article/view/5053Rendam Kaki Air Hangat terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi: Studi Kasus2026-04-15T16:28:42+00:00Salsabila Ayu Sulistyaningrum[email protected]Dwi Natalia Budiarti[email protected]Ria Novita Tresnawati[email protected]Fahni Haris[email protected]<p><em>Hypertension increases the risk of cardiovascular, cerebrovascular, and renal complications. Warm water foot soaking is a non-pharmacological therapy that may reduce blood pressure through vasodilation, improved circulation, and relaxation. Objective: This study aimed to analyse the effect of warm water foot soaking on blood pressure among hypertensive patients in the Aster Ward, Tjitrowardojo General Hospital, Purworejo. This quantitative case study used a one-group pre-test post-test design. Five respondents were selected using purposive sampling. Blood pressure was measured before and after a 15-minute warm water foot soaking intervention at 38–40°C. Data were analysed using a paired t-test. The results showed a significant reduction in blood pressure after the intervention. Mean systolic blood pressure decreased by 12.40 mmHg (p = 0.003) and mean diastolic blood pressure decreased by 6.60 mmHg (p= 0.004). Conclusion: Warm water foot soaking may be used as a simple non-pharmacological nursing intervention to help reduce blood pressure in hypertensive patients. The main limitation of this study was the small sample size.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Hipertensi meningkatkan risiko komplikasi kardiovaskular, serebrovaskular, dan ginjal. Rendam kaki dengan air hangat merupakan terapi nonfarmakologis yang dapat menurunkan tekanan darah melalui vasodilatasi, perbaikan sirkulasi, dan relaksasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh rendam kaki dengan air hangat terhadap tekanan darah pada pasien hipertensi di Bangsal Aster, RSUD Tjitrowardojo, Purworejo. Studi kasus kuantitatif ini menggunakan desain one-group pre-test post-test. Lima responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Tekanan darah diukur sebelum dan sesudah intervensi rendam kaki dengan air hangat bersuhu 38–40°C selama 15 menit. Data dianalisis menggunakan uji-t berpasangan (paired t-test). Hasil penelitian menunjukkan penurunan tekanan darah yang signifikan setelah intervensi. Rerata tekanan darah sistolik menurun sebesar 12,40 mmHg (p = 0,003) dan rerata tekanan darah diastolik menurun sebesar 6,60 mmHg (p = 0,004). Kesimpulan: Rendam kaki dengan air hangat dapat digunakan sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis yang sederhana untuk membantu menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi. Keterbatasan utama dari penelitian ini adalah ukuran sampel yang kecil.</p>2026-10-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://jurnal.unw.ac.id/index.php/ijnr/article/view/5212Pengaruh Senam Qigong Terhadap Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada Pekerja Konveksi di Kecamatan Tengaran2026-06-26T15:27:56+00:00Mutiara Ayona Susanti[email protected]Prita Adisty Handayani[email protected]Siti Juwariyah[email protected]Swanny Trikajanti[email protected]<p><em>Musculoskeletal disorders (MSDs) are occupational diseases that result from the absence or improper application of ergonomic principles. These complaints include muscle and joint pain, especially in the hands, feet, neck, and back. This study aimed to examine the effect of qigong exercise on musculoskeletal disorders (MSDs) complaints among garment workers in Tengaran District. Method : This study was conducted at a garment facility in Tengaran District from April 7 to May 3, 2025. It employed a quasi-experimental method with a one-group pre-post test design. The sample consisted of 45 respondents selected through total sampling. Researchers used the Nordic Body Map (NBM) as the measurement instrument. Data were analyzed using the Wilcoxon Test with a significance level 0f (<0,05). Result : The Wilcoxon test produced a p-value of 0,001. Based on the pre-post test results, qigong exercise significantly affected the reduction of musculoskeletal disorders (MSDs) complaints among garment workers in Tengaran District.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Musculoskeletal disorders (MSDs) adalah penyakit akibat kerja yang muncul karena penerapan prinsip-prinsip ergonomi yang tidak tepat atau tidak ada sama sekali. Keluhan ini meliputi nyeri otot dan sendi terutama pada bagian tangan, kaki, leher dan punggung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh senam qigong terhadap keluhan musculoskeletal disorders (MSDS) pada pekerja konveksi di Kecamatan Tengaran. Metode : Penelitian ini dilakukan di Konveksi Kecamatan Tengaran pada tanggal 7 April-3 Mei 2025. Penelitian ini menggunakan quasi eksperiment dengan rancangan penelitian one group pre-post test design. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 45 responden dengan teknik pengambilan data total sampling. Penelitian ini menggunakan alat ukur Nordic Body Map (NBM) Uji statistik penelitian ini menggunakan Uji Wilcoxon dengan tingkat kemaknaan (<0,05). Hasil : Uji statistik penelitian ini diperoleh p-value 0,001. Berdasarkan hasil p-value pada pre-post test dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh senam qigong terhadap keluhan musculoskeletal disorders (MSDs) pada pekerja konveksi di Kecamatan Tengaran.</p>2026-10-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026